SEMARANG, derapguru.com — Dalam tubuh organisasi PGRI saat ini dihuni oleh beberapa kelompok organisasi. Para pengurus yang rata dihuni Gen Baby Boomer dan Gen X. Anggota senior yang rata-rata dihuni Gen X dan sebagian Gen Y. Serta hadirnya guru-guru baru dari Gen Z.
Perbedaan generasi ini membawa pula perbedaan karakter, budaya, dan cara komunikasi masing-masing. Kondisi inilah yang mengakibatkan seakan-akan muncul gap antarguru dalam menjalankan tugas profesinya.
Hal tersebut disampaikan Ketua PGRI Kota Semarang, Prof Dr H Nur Khoiri MPd, saat memberikan laporan pelaksanaan kegiatan Konferensi Kerja PGRI Kota Semarang yang dipusatkan di Seminar Room 6fl Menara UPGRIS Kampus Gajah Semarang, Minggu 24 Mei 2026.
“Ada generasi baby boomer, ada Gen-X, Gen-Y, dan Gen-Z. Semua memiliki cara komunikasi yang berbeda. Perbedaan cara komunikasi inilah yang perlu kita selesaikan agar arus informasi dari pengurus bisa diterima anggota dengan baik,” tutur Prof Khoiri.
Prof Khoiri sengaja menggarisbawahi masalah perbedaan generasi ini, agar para pengurus mulai menyadari perbedaan generasi dan mau mengubah cara pendekatan dalam komunikasinya. Kecerdasan dalam komunikasi inilah yang akan membantu dan menentukan kesuksesan dalam pengelolaan organisasi PGRI pada masa kini.
Terkait dengan kegiatan konferensi, Prof Khoiri menuturkan, bahwa kegiatan konferensi memiliki dua agenda khusus. Agenda yang pertama adalah untuk mengevaluasi kinerja organisasi selama satu tahun terlewat.
“Tiap tahun kita evaluasi. Ini agenda pertama. Sedangkan agenda kedua adalah membuat program kerja untuk dijalankan selama satu tahun ke depan,” tambahnya.
Dari PGRI Jawa Tengah yang hadir dalam kesempatan tersebut antara lain Ketua PGRI Jawa Tengah Dr H Muhdi SH MHum, Wakil Bendahara PGRI Jawa Tengah, Dr Sapto Budoyo SH MH, dan Ketua Perempuan PGRI Dr Arri Handayani SPsi MSi. (za)


