
SEMARANG, derapguru.com — Ada banyak kasus yang melibatkan guru di wilayah Jawa Tengah yang ditangani organisasi PGRI. Kasus-kasus itu ada yang bersifat sederhana dan ada juga kasus tergolong berat sehingga banyak membutuhkan waktu dan tenaga.
Sayangnya, kasus-kasus yang ditangani №organisasi PGRI ini rerata memang tidak ingin diekspose. Kalaupun terekspose, itupun karena kasusnya sudah ramai dulu di berbagai media massa baru kemudian organisasi menyusul masuk untuk menangani masalahnya.
“Ada seorang guru melapor, katanya telah dianiaya oleh isterinya. Serius ini. Ini nyata. Adanya di Kota Semarang. Saya ke kaget sampai-sampai saya bertanya, ‘memang isterimu itu sebesar apa’?” urai Muhdi disambut tawa.
Muhdi menambahkan ada juga kasus guru yang yang lebih mbangeti lagi. Ada guru agama yang mengajarkan kasih sayang. Tak cukup hanya cium tangan, cium kening, pipi, ditambah lagi berusaha memeluk badan. Ada juga kasus di salah satu SMP yang melibatkan anak dosen yang sempat ramai karena muncul pada awal-awal hadirnya medsos.
“Termasuk pula kasus guru agama dengan dalil kasih sayang tidak cukup dengan cium tangan, tapi juga kening dan pipi, serta diakhiri dengan pelukan erat. Belum lagi kasus guru olahraga, yang karena kebetulan lagi ada masalah di rumah, dia duduk sambil merokok, dan siswanya diminta keliling 100 kali. Ya pada pingsan,” urai Muhdi.
Muhdi menambahkan, PGRI Jawa Tengah memiliki cara tersendiri diri untuk mengatasi masalah guru. Bahkan banyak hal yang telah diselamatkan LKBH PGRI Jawa Tengah, tapi PGRI Jawa Tengah memiliki cara yang lebih soft untuk mengatasi masalah tanpa menimbulkan kegaduhan.
“Tentu bukan caranya PGRI Jateng bila hal-hal seperti itu harus diviralkan, harus diramai-ramaikan. Itu kan sama saja membuka aib guru,” pungkas Muhdi.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Bendahara PGRI Jawa Tengah, Dr Sapto Budoyo SH MH, dan Ketua Perempuan PGRI Dr Arri Handayani SPsi MSi. (za)


