
SEMARANG, derapguru.com — Dari banyak jenis perundungan, perundungan verbal menjadi salah satu jenis perundungan yang paling banyak terjadi. Pasalnya, dalam komunikasi guru dengan siswa atau siswa dengan sesama siswa sendiri, antara “guyonan”, “teguran”, “menasehati”, ” dengan “perundungan verbal’ bedanya sangat tipis.
Kondisi inilah yang dibaca secara cermat oleh tim dosen UPGRIS terdiri atas Dr Mukhlis MPd, Prof Dr Nur Khoiri, Dr Joko Siswanto MPd, dan Rawinda Fitrotul Mualafina SS MA untuk segera “dibenahi” agar komunikasi yang terjadi di sekolah tidak melebar menjadi peristiwa perundungan secara verbal.
Maka dari itu, digelarlah pelatihan khusus untuk para guru dengan tajuk “Optimalisasi Kaidah Kesantunan Berbahasa di Lingkungan Sekolah: Upaya Preventif Perundungan Verbal Bagi Guru Lintas Jenjang di Kota Semarang” yang dipusatkan di UPGRIS Kampus Gajah Semarang, baru-baru ini.
Rawinda mengatakan masalah perundungan verbal ini sering terjadi berawal dari “guyonan” antarsiswa. Sedang untuk guru terhadap siswa seringnya terjadi saat mereka mendisiplinkan para siswa yang bermasalah dengan aturan-aturan sekolah.
“Selama ini pendisiplinan seperti apa yang Bapak Ibu lakukan pada siswa?” pancing Rawinda pada para guru, “Kekerasan verbal biasanya masuk melalui proses pendisiplinan ini,” lanjutnya.
Rawinda perlu menegaskan ini karena adanya perbedaan cara komunikasi antargenerasi, generasi saat ini sering memaknai teguran dan nasihat sebagai bentuk kemarahan dan kekerasan.
“Maka dari itu, kami berpesan bagi para guru, karena perbedaan cara pemaknaan komunikasi, untuk lebih selektif dalam menggunakan bahasa. Guru perlu mendalami salah satu ilmu bahasa yang dinamakan ‘kesantunan berbahasa’. Ini bisa menjadi salah satu upaya pencegahan perundungan verbal,” urainya.
Lebih lanjut Rawinda menuturkan, ada lima prinsip kesantunan berbahasa yang setiap orang bisa belajar melakukannya. Pertama, meminimalkan kerugian bagi orang lain. Kedua, memaksimalkan keuntungan bagi orang lain. Ketiga, mengurangi pujian bagi diri sendiri. Keempat, memaksimalkan penghargaan bagi orang lain. Dan kelima, menunjukkan kesepakatan dan simpati.
“Seringkali perundungan verbal tidak bermula dari niat menyakiti, tapi dari kebiasaan berbahasa yang kurang disadari. Dengan memilih kata yang tepat, guru yang tidak hanya mengajar, tapi juga menjaga martabat peserta didik,” tutur Rawinda. (za)




