SEMARANG, derapguru.com — Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Dr Muhammad Ahsan SAg MKom, ternyata memiliki pengalaman langsung mendapatkan bantuan advokasi dan pendampingan hukum dari organisasi PGRI.
Sebenarnya kasus hukum ini tidak ada kaitannya langsung dengan dirinya, tapi karena saat itu dia menjabat sebagai kepala sekolah. Ada anak didiknya (di luar kegiatan sekolah ingin menyusul temannya) meninggal tenggelam di kolam renang. Ndilalah saat itu ada guru yang sedang ngelesi renang di sana sehingga asumsi masyarakat makin kacau dan sekolah jadi terseret juga.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Muhammad Ahsan saat memberikan sambutan dalam Konferensi Kerja PGRI Kota Semarang, yang dipusatkan di Seminar Room 6fl Menara UPGRIS Kampus Gajah Semarang, Minggu 24 Mei 2026.
“Yang membantu saya Pak Sapto (Ketua LKBH PGRI Jateng, Dr H Sapto Budoyo SH MH, red). Mungkin beliau lupa dengan saya, tapi saya masih ingat betul. Dan karena bantuan beliau inilah masalah clear semuanya,” urai Ahsan sambil melihat ke arahnya.
Bagi Ahsan, peristiwa yang dialaminya tentu sangat membekas, apalagi saat itu dia masih muda, baru berusia 34 tahun, dan baru diangkat menjadi kepala sekolah di tempat tersebut. Beruntung ada organisasi PGRI yang memberikan bantuan advokasi dan mendampinginya secara gratis sampai masalah selesai.
“Kita kerja maunya ya yang baik-baik saja, lancar-lancar saja, tapi hidup tidak bisa diprediksi. Dan satu-satunya organisasi profesi guru yang memiliki kelengkapan advokasi untuk memberikan bantuan perlindungan hukum secara gratis bagi anggotanya saya kira hanya PGRI saja,” tutur Ahsan. Ahsan juga menyinggung banyaknya guru-guru muda sekarang ini yang abai terhadap organisasi profesi. Padahal dalam aturan setiap guru wajib mengikuti minimal satu organisasi profesi. Bahkan, mereka juga tidak banyak yang mengetahui bahwa kesejahteraan yang baik dan kehidupan guru yang semakin bermartabat juga tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan ada yang memperjuangkannya.
Guru-guru baru saat ini, lanjut Ahsan, kemungkinan besar tidak tahu bagaimana perjuangan organisasi. Mereka rata-rata anak generasi sekarang yang dulunya lulus kuliah, ikut sertifikasi, lalu tiba-tiba jadi guru. Setelah jadi guru, mereka tinggal lihat enaknya, dapat gaji, dapat pula tunjangan sertifikasi. Mereka tidak tahu bahwa semua yang didapatkan itu ada asbabul nuzulnya. Ada yang memperjuangkannya.
“Tahunya, apa yang mereka dapatkan itu given, ujug-ujug ono, tidak tahu kalo semua yang didapatkan itu hasil perjuangan keras organisasi. Maka pesan kami pada teman-teman yang senior, sok-sok cerito-o, biar mereka tahu. Tidak selalu harus dengan sosialisasi formal, cerita dari mulut ke mulut juga sangat efektif,” pesan Ahsan.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut antara lain Ketua PGRI Jawa Tengah Dr H Muhdi SH MHum, Wakil Bendahara PGRI Jawa Tengah, Dr Sapto Budoyo SH MH, dan Ketua Perempuan PGRI Dr Arri Handayani SPsi MSi. (za)


