
SEMARANG, derapguru.com — Para guru sebaiknya tidak hanya menggunakan metode “drill” dalam melatih para siswa dalam menghadapi Tes Kompetensi Akademik (TKA). Metode drill memang cukup bagus untuk menajamkan memori dan menambah ketangkasan, tapi terlalu kaku sehingga membuat otak tidak kreatif.
Yang paling efektif dalam mengajarkan TKA pada siswa justru berlatih memahami ragam logika soal dalam materi TKA. Dengan mempelajari logika soal, maka akan didapatkan sebuah pola tertentu yang dapat membuat siswa tidak mudah terkecoh terhadap varian-varian soal TKA.
Kunci tersebut ditekankan Ketua Tim Pengabdian Dosen UPGRIS, Dr Nanik Setyawati MHum, saat memberikan pelatihan “Penguatan Kompetensi Guru dalam Mengembangkan Literasi Akademik dan Strategi Pembelajaran Berbasis TKA Kemampuan Akademik di Sekolah” di SMP Institut Indonesia Semarang, baru-baru ini.
“Jangan hanya nge-‘drill’ latihan soal, tapi guru juga perlu mengajari bagaimana memahami logika soal TKA,” tutur Nanik Setyawati.
Nanik menambahkan, selain mengajarkan logika soal TKA, dirinya juga mengingatkan jangan sampai para guru terjebak pada model-model bimbingan belajar. Karena mengejar peningkatan nilai TKA, banyak sekolah terjebak pada kegiatan yang mirip aktivitas di kelas-kelas bimbingan belajar.
“Sekali lagi perlu saya tegaskan, perlu untuk mengajarkan logika soal TKA, bukan malah mengubah sekolah menjadi “tempat bimbingan belajar”, tandas Nanik didampingi tim lainnya yang terdiri atas Dr Ngurah Ayu Nyoman Murniati MPd, Dr Eva Ardiana Indrariani MHum, dan Dr Icuk Prayogi MA.
Lebih lanjut Nanik menuturkan, dengan siswa yang mampu menelaah soal TKA dengan logika, secara otomatis para siswa kita akan memiliki cara menalar yang baik. Nalar yang baik inilah yang akan mendorong naiknya kompetensi akademik siswa-siswa Indonesia.
“Perlu disadari para guru, bahwa diterapkannya TKA ini adalah upaya untuk memetakan dan meningkatkan kapasitas intelektual siswa di Indonesia. Selain itu, pelaksanaan TKA juga untuk membekali siswa menghadapi seleksi pendidikan di jenjang yang lebih tinggi,” ungkap Nanik. (za)




