
SEMARANG, derapguru.com — Pembina UPGRIS, Dr H Muhdi SH MHum, meminta seluruh sivitas akademika–termasuk calon rektor–dapat memahami alasan utama pendirian UPGRIS. Hal ini diperlukan supaya setiap orang dalam kampus ini dapat memahami bagaimana kampus ini dibangun serta memahami ke arah mana kampus ini akan dilajukan.
Hal tersebut disampaikan Muhdi saat memberi arahan dalam kegiatan “Sosialisasi Pemilihan Rektor Universitas PGRI Semarang” yang dipusatkan dalam Gedung Pusat 7fl Menara UPGRIS Kampus Cipto Semarang, Jumat 24 April 2026.
“Kita beruntung, kampus UPGRIS ini tidak didirikan perseorangan. Yang ketika orang tuanya meninggal diwariskan ke anak. Anak meninggal diwariskan ke cucu. Lalu ketika cicitnya sudah bosan, kemudian kampusnya dijual. UPGRIS bukan milik individu. UPGRIS dibangun oleh PGRI dengan tujuan meningkatkan pendidikan,” ungkap Muhdi.

Muhdi menambahkan, terkait calon dari PNS yang ditugaskan di UPGRIS–termasuk pejabat yang sedang menjabat–, ada aturan baru dari Permendiktisainstek RI No 52 Tahun 2025 tentang Profesi, Karier, dan Penghasilan Dosen.
Pada pasal 35, penugasan PNS sebagai pimpinan pada PTS, paling lama hanya 5 tahun. Dapat diperpanjang lagi satu kali dengan ketentuan: bila pada jabatan sama harus di PTS yang berbeda, tapi bila pada jabatan yang berbeda, dapat ditugaskan kembali pada PTS yang sama.
Ketua YPLP PT, H Sakbani SPd MH, menyatakan bahwa dalam pendataan yayasan, ada 47 dosen yang memenuhi syarat minimal menjadi calon rektor. Dia berharap para dosen yang berhak tersebut akan memanfaatkan haknya untuk mencalonkan diri sebagai rektor.

“Silakan berkompetisi secara sehat dengan menunjukkan ide-ide yang baik sehingga bisa menjadikan UPGRIS semakin berjaya. Prinsipnya: Beres, Sukses, tanpa Ekses, tiga hal itu jadi panduan kita bersama,” urai Sakbani.
Sementara itu Rektor UPGRIS, Dr Hj Sri Suciati MHum, menyampaikan bahwa pergantian kepemimpinan adalah sebuah keniscayaan. Bila situasi agak menghangat itu hal yang biasa di masa-masa suksesi seperti ini, tidak perlu ditafsirkan terlalu jauh karena semua yang akan maju adalah kader terbaik kampus ini.
“Kaderisasi yang baik tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari dalam organisasi yang memberi kesempatan bagi semua insan akademis untuk tumbuh dan berkembang,” urai Sri Suciati.
Dalam kesempatan tersebut, Sri Suciati berpesan untuk selalu mengingat perjuangan para pemimpin dan pendahulu kampus. Sebab segala pencapaian yang kita dapatkan kali ini tidak lepas dari upaya-upaya yang dilakukan pemimpin sebelumnya. (za)




