
SEMARANG, derapguru.com — Jangan pernah yakin bahwa apa yang muncul atau kita yakini dalam media sosial adalah sesuatu yang asli. Media sosial adalah tempat untuk diproduksinya identitas baru yang proses produksinya entah disadari atau tidak oleh si pengguna.
Sedangkan salah satu hal yang menjadi alat untuk membentuk identitas baru itu adalah bahasa. Bahasa yang kita gunakan di media sosial akan ditangkap orang lain sebagai identitas kita. Dalam istilah lebih sederhana, itulah personal branding kita.
“Apapun yang kita posting di media sosial akan dimaknai sebagai branding. Bila kita konsisten menyampaikan hal-hal positif, kita akan dikenali dengan hal-hal positif akan dapat meningkatkan branding kita,” urai Rahmat.
Ini peringatan tegas yang disampaikan Ahli Bahasa Muda Unnes, Rahmat Petuguran, saat memberikan pencerahan dalam “Webinar Peran Bahasa Dalam Pembentukan Karkter di Media Sosial” yang digelar Pusat Pengembangan Mata Kuliah Umum (MKU) LPP UPGRIS, Jumat 24 April 2026
Rahmat juga menyinggung masalah konsekuensi dalam penggunaan bahasa dalam media sosial. Apa-apa yang sudah muncul dalam media sosial adalah konsumsi publik, bahkan pesan yang bersifat privat dalam grup tertutup pun sudah tidak bisa kita anggap aman.
“Adanya fitur screenshoot memungkinkan sesuatu yang privat menjadi tidak privat. Maka setiap kali memposting sesuatu di media sosial, kita harus sadar apa yang kita sampaikan bisa ditangkap publik,” tutur Rahmat.
Dalam webinar yang dimoderatori Dosen PBI UPGRIS Festi Himatu Karima tersebut, Rahmat juga menyampaikan pengamatannya saat berselancar di media sosial. Ada kecenderungan untuk terhadap merek dan tipe gawai yang digunakan. Gawai dengan merek papan atas akan memiliki fitur-fitur komunikasi yang berbeda sebagai petunjuk kelas sosial.
“Sebaliknya tipe-tipe gawai yang digunakan akan menentukan tulisan yang dihasilkan. Misalnya, gawai dengan keyboard tipe qwerty akan lebih leluasa menggunakan bahasa yang lengkap dan cenderung sempurna. Sedangkan gawai dengan keyboard abc dalam satu tombol cenderung memiliki banyak singkatan yang terkadang hanya kelompok atau komunitasnya saja yang paham,” tutur Rahmat.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan MKU LPP UPGRIS, Sunan Baedowi SPdI MSI, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk luaran dalam mata kuliah umum.
“Kami berharap para mahasiswa mendapatkan pengalaman kuliah MKU yang berbeda dan menarik di Kampus UPGRIS,” ungkap Sunan Baedowi. (za)




