
DEMAK – Derapguru.com
Masalah sampah rumah tangga memerlukan penanganan kreatif dari hulu. Bergerak atas dasar tersebut, mahasiswa KKN Kelompok 33 Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) berkolaborasi dengan PKK Mulia dan Perpustakaan Mulia Desa Margohayu menggelar sosialisasi edukatif di GOR Serbaguna Desa Margohayu pada Minggu (30/8/2026).
Kegiatan bertajuk ”Membangun Desa Tangguh Lingkungan dan Mandiri Ekonomi Melalui Penerapan Biopori Serta Legalitas UMKM” ini terasa spesial dengan kehadiran langsung Anggota Komisi VII DPR RI Dapil II Jawa Tengah, Andika Setya Wasisto, S.H., M.H., sebagai narasumber utama sekaligus fasilitator gerakan.Dalam pemaparannya, Andika menekankan pentingnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah organik sejak dari dapur rumah.
Menurutnya, pemecahan masalah lingkungan tidak akan selesai jika warga hanya mengandalkan pembuangan akhir tanpa adanya pemilahan.“Bagaimana kita menjadikan kesadaran bahwasanya sampah ini bukan hanya sebagai kotoran, tetapi sampah ini berguna,” ujar Andika di hadapan para peserta.Sebagai solusi konkret yang murah dan mudah, Andika mengajak warga memanfaatkan sistem lubang resapan biopori untuk mengolah sampah organik seperti sisa sayuran dan kulit buah.

Tak sekadar memberi teori, legislator senayan ini juga memfasilitasi pelatihan pembuatan biopori dalam pot serta membagikan paket biopori dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) berupa bibit jeruk purut. Pemilihan jeruk purut ini dinilai strategis karena kaya manfaat untuk bumbu masakan sekaligus mendukung program kesehatan keluarga milik PKK setempat.
Di sisi lain, keterlibatan Perpustakaan Mulia Desa Margohayu dalam acara ini menjadi simbol penguatan literasi berbasis praktik. Ilmu yang didapatkan warga tidak boleh mengendap sebagai teori bacaan, melainkan harus diimplementasikan di lingkungan rumah.Pengurus Perpustakaan Mulia Desa Margohayu, Kosim, berharap para kader perempuan yang hadir mampu menjadi motor penggerak lingkungan di lingkungan RT/RW masing-masing.”Melalui ibu-ibu PKK itu nanti menjadi contoh biar bisa ditularkan, bisa disalurkan pengetahuannya tentang biopori itu kepada warga sekelilingnya,” kata Kosim.

Melalui sinergi kuat antara dunia akademik, parlemen, dan kelembagaan desa, program ini diharapkan melahirkan kebiasaan baru yang ramah lingkungan. Kesadaran mengelola sampah organik dari rumah ini diproyeksikan mampu mewujudkan Desa Margohayu yang tangguh iklim sekaligus mandiri secara ekonomi secara berkelanjutan.(Asmi/Wis)




