
KENDAL, derapguru.com— Bagi sebagian besar murid sekolah dasar, mata pelajaran Matematika sering kali dianggap sebagai “hantu” yang menakutkan. Di antara sekian banyak materi, operasi hitung pecahan menduduki peringkat atas sebagai topik yang paling memicu kecemasan atau math anxiety.
Fenomena ini pula yang sempat dijumpai di kelas VI SD Negeri 2 Sambongsari, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal. Pada evaluasi awal materi pecahan, rata-rata nilai kelas hanya menyentuh angka 58,2, jauh di bawah standar Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Dari 30 siswa, hanya 10 anak (33%) yang berhasil mencapai kriteria tuntas.
Melihat kondisi tersebut, Suprapti, S.Pd., guru kelas VI SD N 2 Sambongsari, menciptakan sebuah terobosan pembelajaran kreatif bernama “Kantin Pecahan” (Kantong Aktif Nilai Transaksi Interaktif) yang dipadukan dengan metode role play (bermain peran).
Mengubah Kelas Menjadi Kantin Sekolah
Menyesuaikan tahap perkembangan kognitif anak usia 7–12 tahun yang membutuhkan objek konkret, kelas disulap menyerupai suasana kantin sekolah. Menggunakan bahan-bahan sederhana seperti kertas origami, karton, dan kardus bekas, dibuatlah replika makanan seperti pizza, roti, dan martabak yang dipotong dalam porsi pecahan, lengkap dengan kupon belanja dan uang mainan.

Para murid dibagi ke dalam kelompok dan berbagi peran sebagai penjual, kasir, serta pembeli. Melalui simulasi transaksi jual-beli ini, konsep hitung pecahan dipraktikkan secara alami:
Penjumlahan & Pengurangan: Pembeli memesan ½ loyang pizza cokelat dan ¼ loyang pizza keju. Kasir menggabungkan kedua porsi secara fisik di atas papan peraga untuk membuktikan secara visual bahwa totalnya adalah ¾ loyang.
Perkalian & Pembagian: Ketika pembeli meminta ½ bagian martabak dibagi rata untuk 2 orang, penjual memotong replika makanan tersebut untuk memperlihatkan bahwa masing-masing mendapat ¼ bagian.
Aturan abstrak seperti “menyamakan penyebut” atau “dibalik lalu dikali” pun tak lagi sekadar hafalan mati, melainkan tindakan nyata yang logikanya dapat dipahami langsung oleh para siswa.
Hasil Lonjakan Nilai yang Mengagumkan
Inovasi peraga interaktif ini terbukti membawa dampak besar bagi hasil belajar siswa SD N 2 Sambongsari. Suasana kelas yang dulunya pasif dan tegang berubah menjadi riuh penuh antusiasme. Berdasarkan data evaluasi, terjadi peningkatan signifikan antara pre-test dan post-test. Nilai Rata-Rata Kelas: Melonjak tajam sebesar 26,3 poin, dari semula 58,2 menjadi 84,5. Ketuntasan Belajar: Meroket dari 33% (10 murid) menjadi 90% (27 murid).

Selain peningkatan angka di atas kertas, kepercayaan diri dan keterampilan sosial murid terasah tajam. Kecemasan terhadap matematika perlahan sirna, berganti dengan semangat joyful learning (pembelajaran yang menyenangkan).
Inovasi Tidak Harus Mahal
Melalui praktik baik (best practice) ini, Suprapti membuktikan bahwa kreativitas guru dalam merancang media sederhana berbasis pengalaman (experiential learning) adalah kunci utama membakar rasa ingin tahu murid.
“Matematika tidak pernah rumit jika kita mampu mendekatkannya dengan realitas kehidupan anak,” ungkap Suprapti. Inovasi “Kantin Pecahan” ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para pendidik lainnya di Indonesia untuk menghadirkan pembelajaran matematika yang hidup, bermakna, dan membahagiakan. (yd)




