
Banjarnegara, derapguru.com-Jika di La Liga Real Madrid sukses menekuk Barcelona pada El Clasico edisi 265 dengan brace yang dilakukan oleh Kylian Mbappe, maka hal serupa terjadi di Trofeo PGRI Banjarnegara 2026 yang digelar di Stadion Soemitro Kolopaking Poerbonegoro, Jumat 30 Oktober 2026, dimana brace pemain PGRI Pejawaran Angga mampu membungkam PGRI Sigaluh dengan skor 2-1.
Angga mulai mencatatkan nama di papan skor di menit ke 35. Namun di menit 41, Arif dari PGRI Sigaluh mampu membalas.
Usai kedudukan imbang, kedua tim jual beli serangan. Namun PGRI Sigaluh yang lebih banyak mendapatkan peluang emas di depan gawang PGRI Pejawaran, buruk dalam penyelesaian akhir, sehingga peluang-peluang itu tak satupun berbuah gol.

Di menit-menit akhir pertandingan, Angga lewat tendangan bebas terarah dari sisi kanan luar kotak pinalti justru berhasil menjebol gawang PGRI Sigaluh. PGRI Pejawaran pun menjadi tim pertama yang lolos ke semi final, sekaligus satu-satunya wakil dari wilayah Banjarnegara atas (Baratas).
Hal karena itu di partai kedua, klub wilayah Baratas lain PGRI Pandanarum harus mengakhiri langkahnya di 8 besar setelah kalah tipis 0-1 atas PGRI Punggelan. Gol semata wayang PGRI Punggelan dicetak oleh Sunadyo di menit 42. Di semi final pekan depan, PGRI Punggelan akan bentrok dengan PGRI Pejawaran dan pastinya menjadi partai yang sangat seru.
Tingkatkan Disiplin
Ketua Bidang Olahraga PGRI Banjarnegara Hafid Surya Mukti mengingatkan agar semua tim meningkatkan kedisiplinan terhadap pelaksanaan turnamen terutama dalam penggunaan pemain. Berdasarkan informasinya, atas kesepakatan seluruh Ketua Cabang PGRI se Banjarnegara, turnamen ini hanya boleh dimainkan oleh guru dan tenaga kependidikan ber Nomor Induk Pegawai (NIP), baik ASN: PNS, P3K maupun P3K Paruh Waktu. Selain itu tidak boleh mengikuti.

“Itu bukan bentuk diskriminasi ya. Tapi justru bentuk profesionalisme kita. Kita ingin guru dan tendik ya bersikap sama di kelas, di masyarakat hingga di lapangan sepak bola. Jadi kalau sampai ada pemain di turnamen ini yang berbuat kasar, keributan, kekerasan atau kerusuhan, bukan hanya akan ditindak oleh wasit selaku pengadil di lapangan. Tapi pasti akan dilakukan pembinaan juga oleh Badan Kepegawaian karena mereka ber NIP. Karena ini mungkin satu-satunya turnamen sepak bola yang digelar oleh guru di Jawa Tengah, bahkan mungkin di Indonesia. Kita ingin kalau berhasil, keberhasilan Trofeo PGRI Banjarnegara ini dijadikan pilot projek untuk semuanya. Karenanya saya harap semua tim yang berlaga betul-betul menjaga kedisiplinan dan juga semangat turnamen ini sebagai sarana penguat solidaritas antar anggota PGRI,” jelas Hafid. (Heni P)




