
Pati, derapguru.com-Inovasi pangan lokal dengan mengangkat Gembili dan Kelor Menjadi Mi Fungsional, Tim Cinagre yang terdiri tiga siswi kelas XE3 SMA PGRI 1 Pati berhasil meraih prestasi Juara 3 dalam kompetisi esai Festicom 2026 di Universitas Gadjah Mada (UGM), belum lama ini. Demikian diungkapkan Kepala SMA PGRI 1 Pati, Sutono Sumo Etmojo, SPd. kepada derapguru.com

Tim Cinagre ini terdiri dari Grescia Vanesa Putri, Citra Putri Pramevi, dan Najla Vevina Adira Gusmantoro. Ketiganya merupakan anggota ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja (KIR).
Dijelaskan, prestasi tersebut berawal dari keinginan para siswi untuk mencoba pengalaman baru di bidang penulisan karya ilmiah. Ketika mendapatkan informasi mengenai World Food Day Festival and Competition (Festicom) 2026 di UGM, mereka mulai mencari ide yang menarik untuk dikembangkan.
“Pilihan akhirnya jatuh pada gembili dari lereng Muria. Bahan pangan lokal tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah”, ujar Sutono menjelaskan.

Dalam kompetisi tersebut, Tim Cinagre mengangkat esai berjudul “Hilirisasi Gembili Lereng Muria Menjadi Functional Noodles dengan Fortifikasi Tepung Kelor untuk Meningkatkan Nilai Gizi dan Diversifikasi Pangan Lokal.”
Gagasan utama esai tersebut, kata Sutono adalah upaya mengembangkan potensi pangan lokal melalui inovasi produk. Gembili diolah menjadi bahan dasar mi fungsional. Selanjutnya, tepung kelor ditambahkan sebagai upaya meningkatkan nilai gizi produk.
“Inovasi ini tidak hanya berorientasi pada pengembangan makanan. Tim Cinagre juga ingin mendorong diversifikasi pangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bahan pangan lokal di kawasan lereng Muria”, jelas Sutono, menambahkan.
Persiapan Intensif
Guru pembimbing, Noor Yulia Pancawati, menambahkan, keberhasilan Tim Cinagre tidak diraih secara instan. Setelah naskah esai lolos ke babak final, ketiga siswi menjalani pembimbingan intensif selama tiga minggu, dan dilakukan melalui beberapa tahapan.

Para siswi terlebih dahulu membuat prototipe produk dengan tiga formula berbeda. Mereka kemudian melakukan uji organoleptik untuk mengetahui karakteristik produk, termasuk rasa dan teksturnya.
Selain itu, tim juga menyiapkan media presentasi. Latihan penyampaian materi bahkan dilakukan hampir setiap hari agar mereka semakin siap menghadapi babak final.
Diungkapkan juga oleh Noor Yulia, dalam proses pengembangan produk, Tim Cinagre menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah menentukan formula yang tepat agar mi gembili dan kelor memiliki rasa serta tekstur yang sesuai dengan selera konsumen. Mereka juga harus memastikan setiap informasi dalam esai dapat dipertanggungjawabkan.
“Kekuatan utama Tim Cinagre terletak pada gagasan inovatif yang mengangkat potensi pangan lokal lereng Muria. Ketiga siswi mampu menjelaskan konsep hilirisasi gembili menjadi functional noodles secara terperinci. Mereka juga tampil lancar saat mempresentasikan gagasannya di hadapan juri”, jelas Noor Yulia, menambahkan.
Dorong Semangat Literasi
Baik Sutono maupun Noor Yulia berharap, Prestasi Tim Cinagre dapat menjadi inspirasi dan dorongan semangat bagi siswa lainnya untuk berani mencoba dan mengembangkan potensi diri.
“Semakin banyak siswa yang tertarik mengikuti kompetisi serupa, kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan keterampilan menulis karya ilmiah dapat terus berkembang”, terang Noor Yulia.
Sutono menambahkan, pihaknya juga terus berkomitmen meningkatkan budaya literasi di sekolah yang dipimpinnya melalui kegiatan ekstrakurikuler KIR. “Dukungan fasilitas turut disiapkan, mulai dari perpustakaan yang nyaman, laboratorium yang memadai, hingga pendampingan guru sesuai bidang keahlian”, jelas Sutono.
“Prestasi Tim Cinagre membuktikan bahwa potensi pangan lokal dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda untuk menghasilkan gagasan inovatif. Lebih dari sekadar penghargaan, karya tersebut juga membawa pesan tentang pentingnya mengenalkan dan mengembangkan kekayaan pangan daerah”, pungkas Sutono mengakhiri penjelasan. (pur)




