
SEMARANG, derapguru.com — Ada keresahan luar biasa bagi Rahmad Riskiawan menghadapi tuntutan masyarakat yang gila-gilaan terhadap profesi guru. Guru honorer lagi. Gajinya cuma tiga ratus ribu. Tapi tuntutannya harus seperti nabi: harus mencerahkan, mencerdaskan, dan membangun karakter murid.
“Resikonya juga tidak kecil. Kalau gurunya itu Guru Agama, resikonya ngeri, salah mengajar taruhannya akhirat. Beda kalau Guru Biologi, salah mengajar palingan muridnya cuma bilang: (diucapkan dengan suara berat ala presiden Prabowo) ‘sawit itu pohon’,” urainya memicu tawa lepas para penonton.

Yang lebih ngeri lagi, kata Rahmad, adalah saat membaca berita-berita di media massa tentang guru honorer: ‘Guru Honorer Ditangkap Polisi Karena Memarahi Murid’, ‘Guru Honorer Dikeroyok Murid-Murid Nakal’, bahkan ada pula ‘Guru Honorer Diketapel Wali Murid sampai Buta’.
“Sebagai guru saya kadang menghadapi murid-murid yang bandel. Bukan hanya murid yang bandel, tapi juga wali murid yang bandel. Tapi nggak pernah terlintas dalam pikiran saya, bila harus menghadapi juga wali-wali murid ‘se-sniper itu’,” ungkapnya.

Materi sederhana, disampaikan dengan sederhana, tapi dampak tawanya tak habis-habis. Itulah pola punch line yang mengantarkan Rahmad Riskiawan berhasil meraih Juara I Lomba Stand Up Comedy dalam “Gelar Karya Projek Kepemimpinan PPG Calon Guru Tahun 2026 Gelombang I” di Kompleks Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang, Minggu 1 November 2026.
Terpilih menjadi Juara II adalah Saeful Abidin dari Prodi PPG PPKn UPGRIS. Saeful Abidin membahas banyak hal yang dianggap meresahkan mahasiswa dan masyarakat. Termasuk larangan membahas hal-hal yang sensitif atau berbau subversif.

” Disuruh nggarap LMS ngger dina, saya diam. Chat dosen ga dibalas saya diam. Melu Bela Negara disiksa, saya juga diam. Tapi hari ini, ada aturan stand up ga boleh bahas politik, akan saya lawan! Akan saya lawan!” ungkap Candra dengan suara menirukan suara cempreng Jokowi yang membuat para penonton meledak tawa.
Sedangkan Juara III Stand Up Comedy, Adien Satrio, dari Prodi PPG PGSD Kelas B, mencoba mengangkat cerita tentang anak muda, dibawakan dengan cara klise, dan diceritakan dengan gaya anak muda juga.
“Sesampainya di samping Masjid Agung, saya traktir Mas Tri. Di sana ada penjual mie ayam. Saya bilang, Pak Mie Ayam. Penjualnya bilang, ‘ayamnya sudah habis Mas’. Mienya saja ga apa. ‘Mienya juga habis’. Kalau begitu, baksonya saja. ‘Habis juga’. Kok bisa habis semua. ‘Ya Mas, yang tersisa hanya penyesalan’,” ungkap Adien.
Dalam kesempatan tersebut, digelar pula lomba stand yang terbaik. Terpilih Juara I adalah stand bazar terbaik berkode PJC1. Terpilih Juara II adalah stand bazar berkode SDB3. Sedangkan terpilih Juara III adalah stand bazar berkode PKN3. (za)




