
SEMARANG, derapguru.com -– Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Pascasarjana Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Kelompok 3 menggelar pelatihan pembuatan totebag ecoprint bagi siswa inklusif di Yayasan Anak Hebat Semarang di Meteseh Tembalang, baru-baru ini.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Projek Kepemimpinan PPG Gelombang 1 Tahun 2026 bertema “Berkarya Tanpa Batas: Menumbuhkan Kemandirian Siswa Inklusif melalui Kreativitas Ecoprint”.
Projek ini dibimbing oleh dosen pembimbing Rahmat Sudrajat SPd MPd dengan mahasiswa Saeful Abidin sebagai ketua. Anggota tim terdiri dari Ayyuasy Haniifah, Melliana, Alvia Zunatul Fadila, Devi Lestari, Hidayah Nur Asmara, Sunu Latifudin, Iqbal Arya Haidar, dan Indra Bayu Saputra.

Saeful Abidin mengatakan kegiatan diikuti 25 anak-anak inklusif. Mereka dikenalkan teknik ecoprint pounding, yaitu menata daun segar di atas totebag, menutupnya dengan plastik, lalu memukulnya perlahan dengan palu kayu hingga warna dan motif daun berpindah ke kain.
“Teknik ini dipilih karena sederhana, aman, mudah dipelajari, dan tidak memakai bahan kimia berbahaya,” urai Saeful Abidin.
Saeful Abidin menambahkan, untuk bisa melatih anak-anak inklusif, beberapa hari sebelumnya, tim berlatih membuat ecoprint, mempelajari bahasa isyarat dasar, dan menggelar gladi bersih. Saat pelatihan, mahasiswa memakai demonstrasi langsung, contoh visual, instruksi singkat, serta pendampingan individual agar setiap siswa dapat berkarya sesuai kemampuannya.

“Hasilnya, 25 totebag ecoprint berhasil dibuat. Siswa juga tampak antusias, terlihat dari semangat mereka memilih sendiri susunan daun yang disukai,” tambahnya.
Lebih lanjut Saefudin Abidin mengatakan kegiatan ini dijalankan untuk melatih motorik halus, kreativitas, serta kepercayaan diri mereka. Totebag karya siswa juga berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan kewirausahaan sederhana, sekaligus mengenalkan pengganti kantong plastik yang ramah lingkungan.
“Bagi mahasiswa, projek ini menjadi latihan kepemimpinan nyata dalam berkolaborasi, berkomunikasi dengan mitra, dan menumbuhkan empati sebagai calon guru,” ungkapnya. (za)



