
SEMARANG, derapguru.com — Pembelajaran Sosial dan Emosional atau Social Emosional Learning (SEL) sangat penting bagi anak-anak didik. Sebuah meta-analisis tahun 2011 terhadap 270.000 siswa ditemukan peningkatan pencapaian akademis sebesar 11 poin persentil bagi peserta program pembelajaran sosial-emosional (SEL).
Hal tersebut disampaikan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prof Dr Muhammad Nur Wangid MSi saat mengisi “Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling” yang digelar Prodi Bimbingan dan Konseling (BK) FIP UPGRIS yang dipusatkan di UPGRIS Kampus Gajah Semarang, Senin 2 November 2026.
“Hasil penelitian terkini, tahun 2025 terhadap 40 studi yang melibatkan lebih dari 33.000 siswa, menemukan pencapaian akademis yang lebih baik di jenjang kelas 1 hingga 12 yang menggunakan SEL,” ungkap Prof Nur Wangid.
Prof Nur Wangid menuturkan, SEL muncul pada tahun 1960-an di Child Study Center, Yale School of Medicine. Di sana, Profesor James Comer menginisiasi Comer School Development Program, dengan menerapkan program yang menitikberatkan pada kebutuhan sosial dan emosional para siswanya.
Pada tahun 2019, dikembangkanlah konsep Transformative Social and Emotional Learning (SEL Transformatif atau T-SEL) yang bertujuan untuk membimbing siswa agar mampu mengkaji secara kritis akar penyebab ketidaksetaraan, serta mengembangkan solusi kolaboratif yang bermuara pada kesejahteraan pribadi, komunitas, dan masyarakat luas.
“Pada tahun 2020, CASEL memperbarui definisi SEL dengan memberikan penekanan yang lebih kuat pada aspek kesetaraan (equity), serta menambahkan informasi mengenai SEL Transformatif sebagai salah satu bentuk penerapan SEL yang berfokus pada kesetaraan tersebut,” urai Prof Nur Wangid.
Sementara itu, Dr Dhyah Padmi Yulianti SPsi MPsi Psikolog, menyampaikan ada lima kompetensi sosial dan emosional. Pertama Kesadaran Diri, dapat dicapai dengan dengan mengenali emosi, pemicu, dan kekuatan diri. Kedua, Pengelolaan Diri, dapat dicapai dengan memberi rasa jeda, kelola emosi, lalu pilih respons.
“Ketiga, Kesadaran Sosial. Dapat diraih dengan mendengarkan dan memahami sudut pandang orang. Keempat, Keterampilan Berelasi, dapat dicapai dengan lebih komunikasi asertif dan penyelesaian konflik. Sedangkan kelima, Keputusan Bertanggung Jawa, dapat dicapai dengan memeriksa setiap fakta dan menimbang dampak tindakan,” tandas Dhyah Padmi.
Dyah Padmi juga menyampaikan, dari hasil penelitian pada total remaja usia 10-17 tahun di Indonesia, 34.9 persen di antaranya mengalami masalah Kesehatan Mental, 5.5 persen di antaranya mengalami Gangguan Mental.
“Dari total yang mengalami masalah kesehatan mental, 2.6 persen pernah mengakses layanan psikologis. Sedangkan dari total orang tua yang anaknya mengalami masalah kesehatan mental, hanya 4.3 persen orang tua yang merasa anaknya membutuhkan bantuan,” tandas Dhyah Padmi. (za)




