Home > UPGRIS > Media Terlalu Lamban Untuk Agent of Information

Media Terlalu Lamban Untuk Agent of Information

CAPACITY BUILDING
Agenda: Pelatihan Tendik di LPP UPGRIS
Reporter: Tim Redaksi

 

SEMARANG, derapguru.com – Pada masa sekarang, fungsi media massa sebagai agent of information atau agen informasi telah runtuh dengan kelahiran media sosial. Kecepatan media sosial dalam proses distribusi informasi tidak mampu lagi ditandingi oleh media massa. Kehadiran media sosial telah menggeser fungsi media massa sebagai agent of information menjadi agent of verification.

Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Jurnalistik dari Prodi PBSI UPGRIS yang juga jurnalis derapguru.com, Zainal Arifin, saat mengisi acara “Optimalisasi Media Sosial dalam Branding LPP UPGRIS’ untuk proses capacity building tenaga kependidikan yang digelar Laboratorium Microteaching Gedung Utama Kampus UPGRIS, Jumat 7 Juli 2023.

“Media massa sudah terlalu lamban untuk menjadi agent of information. Kecepatannya kalah telak dengan kecepatan media sosial dalam proses distribusi informasi. Kini fungsi media massa tidak lagi agent of information, tapi telah bergesar menjadi agent of verification, menjadi rujukan masyarakat untuk memverifikasi kebenaran sebuah informasi,” tutur Zainal.

Hoaks tidaknya sebuah informasi, lanjut Zainal, dapat dipastikan dengan terbit tidaknya informasi tersebut di media massa mainstream. Bila media massa mainstream tidak menerbitkannya, “kemungkinan besar” informasi tersebut hoaks. Untuk mempertegas fungsi baru ini, media massa mainstream sampai menyediakan rubrik khusus yang membahas hoaks atau tidak informasi yang sedang viral di masyarakat.

Hoaks itu biasanya lahir dari media sosial, tapi media massa-lah yang harus gedebugan memverifikasi benar-tidaknya informasi tersebut. Jadi, ibaratnya yang sedang ‘pesta makan’ itu media sosial, yang bagian ‘cuci piring’ media massa,” tandas Zainal.

Terkait dengan produksi berita untuk kepentingan penataan konten website resmi lembaga, Zainal menuturkan, perlunya pengetahuan bagi kontributor laman, bahwa berita yang diproduksi bukanlah produk berita jurnalistik, melainkan produk berita kehumasan. Karya jurnalistik news value-nya mengarah pada semua informasi yang menarik untuk masyarakat, baik yang positif maupun yang negatif.

“Sedangkan karya kehumasan news value-nya mengarah hanya pada hal-hal yang positif saja. Mengarah pada hal-hal yang dapat membangun sign value. Jadi, kontributor laman harus tahu persis mana-mana informasi yang bisa membangun sign value. Harus tahu pula cara mengemas dan mengelolanya sehingga mampu melahirkan simbolic value yang berdampak pada hadirnya citra lembaga menjadi prestisius dan bergengsi,” tandas Zainal.

Capacity Building

Sementara itu Ketua Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) UPGRIS, Dr Fenny Roshayanti MPd, menuturkan bahwa kegiatan yang dilakukan ini merupakan bagian dari proses capacity building untuk meningkatkan skill tenaga kependidikan di lembaganya. Target kegiatan ini, para tenaga kependidikan akan memiliki tambahan skill yang dapat mendukung optimalisasi pengelolaan website dan media sosial lembaga.

“Kegiatan hari ini, kami juga mengundang praktisi yang juga akademisi dari Prodi  Pendidikan Teknik Informatika, Bambang Herlambang SKom MKom, untuk mengajarkan kami membuat karya-karya dengan aplikasi desain grafis, animasi, dan video editing. Kami berharap setelah kegiatan ini, para tenaga pendidikan kami dapat mengoptimalkan pengelolaan dan pembuatan konten dalam website dan media sosial lembaga kami,” tutur Fenny. (za)

You may also like
DEDE YUSUF
Komisi X Dukung KPK Berantas Gratifikasi PPDB
“Kangsadewa Adu Jago” Mewarnai Gelar Karya P5 SMK PGRI 01 Semarang
Bagas – Tasyfa, Mahasiswa Baru Yang Sabet Gelar Pupika UPGRIS 2024
Pendanaan Non-UKT Akan Jadi Indikator Kinerja PTNBH

Leave a Reply