Home > UPGRIS > Ingat Bunda, Cara Komunikasi Anak Laki-Laki dan Perempuan Berbeda

Ingat Bunda, Cara Komunikasi Anak Laki-Laki dan Perempuan Berbeda

SEMARANG, derapguru.com – Meski tak boleh dibeda-bedakan dalam memberikan perlakuan, tapi anak laki-laki dan anak perempuan memang sejatinya berbeda secara kodrat bawaan. Beberapa kodrat bawaan inilah yang kemudian membawa pengaruh pada beberapa hal. Salah satunya adalah cara mereka dalam berkomunikasi.

Hal tersebut disampaikan Dosen UPGRIS, Tarcicia Sri Suwarti, saat menjadi pemateri dalam program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “PkM Pengenalan Karakter Komunikasi Anak Usia Dini Bagi Guru TK PL Kartini Semarang”, yang dilangsungkan baru-baru ini.

“Anak laki-laki sangat tidak suka bila diajak berbicara dengan bertatap mata. Sebaliknya, anak perempuan sangat senang bila mata mereka ditatap saat diajak berbicara,” tutur Sri Suwarti didampingi tim pengabdian yang terdiri atas Troeboes Soeprijanto, Siti Lestari, dan M Wahyu Widiyanto.

Sri Suwarti menambahkan perbedaan-perbedaan dasar dalam komunikasi seperti inilah yang wajib dipahami oleh guru-guru yang mengajar anak di jenjang Pendidikan Usia Dini. Jangan sampai karena ketidakpahaman, masa-masa emas dalam penanaman karakter justru gagal dimanfaatkan secara baik oleh para gurunya.

“Hal dasar lain yang perlu dipahami misalnya, anak laki-laki hanya mengeluarkan 8000 kata per hari, tapi anak perempuan dapat mengeluarkan kata-kata sampai 20 ribu per hari. Ini juga harus menjadi pengetahuan guru supaya tahu cara menyikapinya,” tutur Sri Suwarti.

Lebih lanjut Sri Suwarti menuturkan, untuk dapat berkomunikasi dengan anak-anak usia dini secara baik, ada beberapa hal yang dibutuhkan. Beberapa hal tersebut antara lain kemampuan menjadi pendengar yang baik, dapat memberikan support seusai mereka bercerita, dan memberi tatapan atau sentuhan agar mereka dapat berkomunikasi dengan nyaman.

“Bila hendak menegur sesuatu yang salah, tidak boleh dilakukan dengan melibatkan emosi, tapi harus disampaikan dengan tutur kata yang baik dan lembut. Jangan sampai anak takut berkomunikasi karena kita cenderung marah-marah dan menyalahkan,” tandas Sri Suwarti. (za)

You may also like
Guru Honorer DKI Jakarta “Dihapus”, Begini Alasan Disdik
Ketua PGRI Jateng Minta Penuntasan Masalah PPPK dan Honorer Diprioritaskan
PGRI Jawa Tengah dan Kepemimpinan Yang Iconic
Dr Muhdi: Apresiasi Untuk Seluruh Pimpinan UPGRIS

Leave a Reply