
SEMARANG, derapguru.com — Bahasa Jawa merupakan warisan budaya tak benda dengan jumlah penutur terbesar di Indonesia, tetapi mengalami degradasi kemampuan yang signifikan di kalangan generasi muda akibat pergeseran bahasa (language shift) terutama di wilayah perkotaan.
Hal tersebut disampaikan Dosen Bahasa Jawa UPGRIS, Dr Alfiah MPd, saat memberikan materi ‘Tingkat Tutur (Unggah-Ungguh) Bahasa Jawa’ dalam kegiatan “Pelatihan Bahasa Jawa Figuratif Bagi Siswa Permadani Cabang Sembah Sakalbu Kota Semarang”, baru-baru ini.
“Terutama pada wilayah perkotaan. Setiap tahunnya terus mengalami penurunan,” ungkap Alfiah.
Alfiah menambahkan, fenomena degradasi kemampuan berbahasa Jawa ini berdampak langsung pada lemahnya penguasaan tiga pilar kecakapan berbahasa Jawa, yaitu sistem tingkat tutur (unggah-ungguh), bahasa figuratif (basa rinengga), dan bahasa tembang.
Lemahnya penguasaan tiga pilar kecakapan inilah, lanjut Alfiah, yang berusaha dibentengi dengan pelatihan yang sedang dijalankan ini. “Pelatihan ini kami fokuskan pada masalah pengenalan unggah-ungguh, basa rinengga, dan basa tembang agar tidak punah dan ditinggalkan,” ungkap Alfiah.
Lebih lanjut Alfiah menuturkan, untuk menambah bobot pelatihan, dirinya juga menggandeng dua dosen UPGRIS lainnya. Pertama, Dr Suyitno MPd, yang memberikan materi bertajuk ‘Kasa Rinengga (Bahasa Jawa Figuratif)’. Dan kedua, Dr Bambang Sulanjari MPd, yang memberikan materi ‘Bahasa Tembang (Macapat)’.
“Pendekatan yang kami gunakan adalah Communicative Language Teaching yang dipadukan dengan ceramah interaktif, role play, latihan tertulis, apresiasi tembang, dan kuis edukatif. Keberhasilan diukur melalui desain one-group pretest-posttest terhadap 40 peserta,” ungkap Alfiah.
Hasil evaluasi, lanjut Alfiah, menunjukkan peningkatan rata-rata skor dari 67,78 (pretest) menjadi 83,35 (posttest), atau naik 15,57 poin (22,98%). Uji statistik menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan (uji Wilcoxon dan paired samples t-test, p < 0,001), dengan ukuran efek (Cohen’s d = 2,11) tergolong sangat besar dan nilai N-Gain ternormalisasi sebesar 0,48 (kategori sedang/cukup efektif). (za)




