
DENGUNG
semua hal dipaksa berani merawat luka, pada tiap kumparan yang menganga, entah itu canda atau nyata, seringkali kita hanya pandai mengamat, tanpa berpikir untuk merawat, bisakah diterima dengan akal sehat?
tanya menyisakan mengapa, apa menghamburkan bagaimana, bisa sebegitu kau menerima terka. lapangku kau terjang, bijakku kau palang palang, namun kau tekuk dalam kata bangkang
kala jawab memeluk tanya, hirup asap harap kan ada, sebait kata menyerah di udara, membentang tak teraih dan terjeda, petang dalam gang lugu, terlempar singgah di ruang deru, hanya ada irama diri yang satu, hilang temaram tersapu waktu
entah sementara atau selamanya, nilainya selalu dianggap kekal di hadapannya, ketidakteraturan nurani jantungnya terbawa,
perlawanan dan penerimaan membentuk rintik damai, meski tergulir pasrah terkondensasi, bak disetubuhi dan ditelanjangi, kau balas diam dengan hati teramini




