Home > D’PGRI > Salam Perjuangan PGRI, Lahir Dalam Suasana Berjuang

Salam Perjuangan PGRI, Lahir Dalam Suasana Berjuang

PGRI BLORA 06
Agenda: Sosialisasi Perjuangan dan Daspen PGRI Jateng
Reporter: Tim Redaksi

 

BLORA, derapguru.com – Salam perjuangan PGRI yang sering digelorakan para guru memiliki sejarah tersendiri dalam kemunculannya. Salam itu lahir saat PGRI tengah berjuang untuk terbentuknya UU Guru dan Dosen yang sekarang berdampak pada lahirnya Tunjangan Sertifikasi Guru.

Rekam sejarah tentang Salam Perjuangan PGRI ini disampaikan Ketua PGRI Jateng, Dr Muhdi SH MHum, saat memberikan sambutan dalam acara Sosialisasi Perjuangan Organisasi dan Daspen PGRI Jawa Tengah yang digelar di Gedung Guru PGRI Kabupaten Blora, Jumat 7 Juli 2023.

“Salam perjuangan ini memang lahir di masa-masa PGRI melakukan perjuangan dan akhirnya saat ini mungkin Bapak/Ibu guru merasakan peningkatan kesejahteraan melalui Tunjangan Profesi Guru,” tutur Dr Muhdi.

HANGAT: Ketua PGRI Jateng Dr Muhdi SH MHum disambut hangat pengurus dan anggota PGRI Blora. Foto: Agus Wis.

HANGAT: Ketua PGRI Jateng Dr Muhdi SH MHum disambut hangat pengurus dan anggota PGRI Blora. Foto: Agus Wis.

Lebih lanjut, Dr Muhdi menuturkan, bahwa sebelum salam perjuangan itu lahir, PGRI sedang berjuang keras menggulirkan pentingnya UU Guru dan Dosen dalam masa perjuangan yang sangat panjang dan melelahkan. Untuk memberikan semangat, dirancanglah kata-kata penyemangat, ‘Hidup Guru, Hidup PGRI, Solidaritas Yes’.

“Lahuirnya UU Guru dan Dosen itu melalui proses yang panjang dan melelahkan. Supaya perjuangan tidak melemah, Profesor Dr Muhammad Surya—salah satu Pengurus Besar PGRI saat itu—sampai-sampai mencari cara untuk menyemangati kita dengan membuat kata-kata perjuangan ‘Hidup Guru, Hidup PGRI, Solidaritas Yess’,” tandas Dr Muhdi.

KHIDMAD: Anggota dan Pengurus PGRI Blora terlihat khidmad mendangarkan paparan. Foto: Agus Wis.

KHIDMAD: Anggota dan Pengurus PGRI Blora terlihat khidmad mendangarkan paparan. Foto: Agus Wis.

Salam perjuangan ini, lanjut Dr Muhdi, terus digelorakan dalam semua peristiwa besar PGRI, mulai dari perjuangan-perjuangan dalam melahirkan UU Guru dan Dosen, aksi demonstrasi guru, sampai peringatan Hari Guru atau HUT PGRI di Senayan Jakarta.

“Begitu kuatnya semangat perjuangan pada masa itu, Pak Surya sampai mengatakan bahwa baju seragam PGRI ini tidak hanya dikenali oleh seluruh masyarakat Indonesia, tapi juga dikenal oleh para Malaikat di atas sana,” tutur Dr Muhdi.

Dampak dari lahirnya UU Guru dan Dosen, lanjut Dr Muhdi, tidak hanya berpengaruh pada peningkatan kesejahteraan yang signifikan, bahkan ada yang lebih dahsyat daripada itu. “Ketika tunjangan sertifikasi pertama kali cair, para guru langsung berbondong-bondong daftar haji. Dampaknya luar biasa. Antrean haji tiba-tiba melejit. Sampai-sampai saat ini untuk berangkat haji harus antre menunggu selama 20 tahun,” tutur Dr Muhdi disambut senyum dan tepuk tangan meriah audiens. (za)

You may also like
“Kangsadewa Adu Jago” Mewarnai Gelar Karya P5 SMK PGRI 01 Semarang
Bagas – Tasyfa, Mahasiswa Baru Yang Sabet Gelar Pupika UPGRIS 2024
Pendanaan Non-UKT Akan Jadi Indikator Kinerja PTNBH
Ari Widyaningrum, Dosen Bersuara Merdu UPGRIS Berpulang

Leave a Reply