
Pendidikan pada dasarnya merupakan kunci dari keberhasilan pembangunan suatu bangsa.Manakala generasi yang dibangun melalui pendidikan berhasil dengan baik, maka negara juga akan menuai hasilnya. Terciptanya generasi ungul suatu bangsa dapat berkontribusi besar dan menjadi investasi jangka panjang bagi negara.
Untuk merealisasikan pendidikan bermutu sesuai harapan, tentu bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan guru semata. Kompleksitas ekosistem dan kolaborasi paralel semua pihak baik pemerintah, satuan pendidikan (sekolah), orang tua, dunia usaha, dan masyarakat luas sangat krusial untuk menciptakan pembelajaran yang aman, nyaman, dan inklusif. Kolaborasi paralel sebagai substansi dari keberhasilan pendidikan ini selaras dengan tema Hari Pendidikan Nasional tahun 2026 yaitu Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Implikasi semesta tersebut menegaskan merujuk pada keterlibatan seluruh elemen bangsa. Pada dasarnya pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah termasuk sekolah dan guru.
Melalui tema ini secara eksplisit maupun implisit negara mengjak semua pihak, baik sekolah,orang tua, dan masyarakat berkolaborasi sinergis untuk meningkatkan standar kualitas pendidikan. Susbtansi utamanya tak lain memastikan bahwa setiap anak tanpa tebang pilih baik ditilik dari latar belakang stratifikasi sosial, ekonomi dan georafis, mendapatkan kesempatan
untuk menerima akses pembelajaran layak. Ini adalah komitmen besar untuk menghapus kesenjangan pendidikan antara kota besar dan daerah terpencil. Adapun yang perlu lebih digali kembali, formulasi kolaborasi seperti apa yang benar benar efektif, sehingga dapat diimplementasikan sampai tataran praksis. Selebihnya dari aksi nyata tersebut pengimbasannya dapat dirasakan oleh semua pihak, sehingga dapat mewujud pada peningkatan kualitas pendidikan untuk semua kalangan.
Modal Awal Kepercayaan
Tidak bisa dipungkiri kolaborasi antara sekolah dan orang tua merupakan kunci utama dalam mewujudkan pendidikan bermutu yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga kuat dalam karakter. Pendidikan berkualitas tidak dapat dicapai hanya oleh guru di sekolah, melainkan membutuhkan sinergi dengan orang tua sebagai pendidik utama di rumah. Pelaku pendidikan pertama yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan pendidikan karakter tak lain adalah orang tua. Orang tua merupakan salah satu pemangku kepentingan utama pendidikan. Mereka yang berkepentingan agar putra-putrinya yang mereka percayakan kepada sekolah dapat bertumbuh dan berkembang secara fisik, psikologis, akademis, moral, dan spiritual. Kepercayaan orang tua merupakan modal awal bagi satuan pendidikan juga guru untuk membentuk karakter anak-anak muda yang dipercayakan kepada mereka. Kepercayaan dari orang tua ini perlu dijaga oleh pihak sekolah agar kepentingan setiap pihak dihormati. Orang tua memercayakan putra-putrinya agar dididik di sekolah karena adanya keyakinan bahwa sekolah akan mendidik anak-anak mereka menjadi manusia yang lebih baik.
Kolaborasi akan terbangun efektif apabila terdapat komunikasi yang baik antara pihak sekolah dengan orang tua. Tanpa ada komunikasi yang baik antara orang tua dengan pihak sekolah, pembentukan karakter anak tidak akan mungkin berjalan dengan baik. Orang tua dan keluarga memang merupakan tempat pertama kali nilai-nilai mulia itu tumbuh. Sedangan sekolah yang memiliki visi mulia pembentukan karakter mulia akan melengkapi dengan nilai-nilai keutamaan lainnya yang membantu individu itu berkembang semakin dewasa. Apabila ada komunikasi yang baik antara orang tua dan sekolah, keluhan-keluhan yang bernada saling menyalahkan tidak perlu terjadi.
Hal itu dikarenakan, baik orang tua dan sekolah memiliki tanggung jawab untuk membentuk karakter mulia anak-anak yang dipercayakan kepada mereka. Di sini, substansinya kepercayaan kepada masing-masing pelaku pendidikan baik orang tua maupun pihak sekolah menjadi sangat penting. Kolaborasi tersebut dapat diimplementasikan melalui berbagai kegiatan yang relevan, seperti, parenting dan workshop. Dalam kegiatan ini, sekolah dapat mengadakan seminar untuk menyamakan pola asuh dan pemahaman mengenai tumbuh kembang anak sesuai dengan zamannya. Selain itu, komunikasi rutin, seperti mengoptimalkan grup kelas, grup orang tua, buku penghubung, atau laporan harian untuk berbagi perkembangan anak menjadi sangat penting. Di samping itu, partisipasi orang tua untuk mendampingi anak-anak belajar nyaman perlu dibiasakan dan dibangun agar bangunan karakter anak yang sudah terbentuk di sekolah maupun di rumah semakin kokoh (Doni Koesoema A., 2018). Dengan cara ini, pendidikan tidak hanya akan menciptakan individu yang cerdas secara akademis, tetapi juga pribadi yang berintegritas dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Terlebih lagi pemerintah melalui Kemendikdasmen telah mencanangkan pendekatan pembelajaran deep learning atau pembelajaran mendalam. Pembelajaran mendalam merupakan cara pandang baru dalam mendidik dan mendorong murid untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan terkoneksikan dengan dunia maya. Cara pandang tersebut merujuk, bahwa pada era sekarang transformasi pendidikan tidak hanya berkutat pada aspek kurikulum maupun pusaran teknologi, namun juga lebih menekankan pada pengalaman belajar bermakna sebagai bekal murid menghadapi dinamika hidup.
Peran guru dalam pembelajaran mendalam sangat signifikan karena merupakan ujung tombak dalam proses pembelajaran. Guru tidak hanya memfasiliasi saja, namun yang paling mendasar guru memiliki peran sebagai aktivator, kolaborator, dan pengembang budaya belajar. Ketiga peran tersebut saling berkelindan satu sama lainnya. Sebagai aktivator yang mendorong murid untuk mencapai tujuan belajar, kolaborator yang bekerja sama dengan murid dan pihak lain,serta pengembang budaya belajar diimplementasikan dengan menciptakan lingkungan yang mendukung murid berani mengambil risiko dan mampu bereksplorasi. Peran guru disini bukan sekadar transformator pengetahuan. Peran tersebut lebih menitikberatkan pada jiwa panggilan untuk membentuk generasi yang mampu menghadapi tantangan dengan keberanian, beretika, memiliki rasa tanggung jawab, dan berkarakter.
Kolaborasi Semua Pihak
Kembali ditegaskan, bahwa pendidikan berkualitas akan tercapai apabila kolaborasi dengan mewujudkan sinergi terpadu dapat dibangun. Kolaborasi semua pihak, baik pemerintah, sekolah, orang tua, dunia industri dan masyarakat, sangat krusial untuk meningkatkan mutu pendidikan. Kerja sama ini diimplementasikan dengan menciptakan lingkungan belajar yang adaptif, mendukung karakter murid, serta mengatasi tantangan pendidikan secara efektif. Seperti halnya kolaborasi dengan dunia industri akan sangat membantu dalam sinkronisasi kurikulum, magang, dan peningakatan keterampilan murid sesuai tuntutan dunia kerja.
Sedangkan pemerintah pusat dan daerah juga memiliki peran signifikan untuk saling menguatkan sinergi kebijakan antar pusat dan daerah guna mempercepat pemerataan kualitas pendidikan. Dengan demikian dapat ditarik tautan benang merah bahwa tema Hari Pendidikan Nasional tahun ini relevan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan PBB, bahwa pendidikan berkualitas akan dapat tercapai dengan membangun pendidikan inklusif serta mempromosikan kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang. Berbagai kebijakan peningkatan mutu pendidikan tidak akan terlaksana tanpa tiga M: Mindset (pola pikir) yang maju, Mental yang kuat, dan Misi yang lurus. Tanpa ketiganya, semua kebijakan itu hanya akan berhenti sebagai program dan formalitas yang sekadar ditandai dengan capaian angka-angka kuantitatif.
Di samping itu, hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tahun hendaknya dapat menjadi refleksi menghidupkan spirit pendidikan nasional yang substansinya menekankan pada memuliakan manusia. Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, meletakkan dasar dan nilai pendidikan dengan sistem among yaitu, asah (ilmu), asih (kasih sayang), dan asuh (pendampingan, pembinaan) yang sampai saat ini masih relevan dan aktual menjadi spirit pendidikan. Selamat Hari Pendidikan Nasional tahun 2026.

Penulis:
Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd.
Guru Seni Budaya
SMK Wiyasa Magelang
Alumnus ISI Yogyakarta dan Magister Pendidikan
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta


