
SAMPAI menjelang malam keriuhan suasana di area UPGRIS Kampus Gajah Semarang, Senin 24 Agustus 2026, tidak reda-reda. Puluhan orang dengan buket bunga, selempang bertuliskan nama, dan benda-benda simbol perjuangan mahasiswa terus saja mengambil foto maupun video.
Ada yang berpose dengan latar bangunan menjulang yang bertuliskan: Universitas PGRI Semarang. Ada pula yang berfoto dan mengambil video di anak tangga utama menuju pintu kaca yang terbuka otomatis. Semua mencoba merekam momen setelah mereka menjalani ujian skripsi yang mendebarkan.
Seperti halnya yang disampaikan Masayu Amalia Yulianti, mahasiswa Pendidikan Matematika FPMIPATI UPGRIS asal Pemalang. Baginya, mengabadikan momen usai ujian skripsi adalah bagian dari upaya memberikan apresiasi bagi diri sendiri.
“Setelah lama berjuang akhirnya sampai pada titik ini. Sebagai bentuk apresiasi diri sendiri sih,” ungkapnya.
Masayu menyampaikan bahwa budaya selebrasi pasca-ujian ini sebenarnya sudah membudaya di mana-mana. Tak hanya di UPGRIS, di kampus-kampus lain juga terjadi. Tapi khusus di UPGRIS, suasananya memang lebih luar biasa karena rerata mereka mencari lokasi Kampus Gajah yang ikonik.
Hal senada diungkapkan Yusuf Hidayatullah, mahasiswa Bimbingan Konseling FIP UPGRIS dari Pamotan Rembang. Dia mengambil foto dan video untuk untuk mengabadikan momen membahagiakan ini. Tak hanya dirinya saja yang menikmati, sang kekasih, Lizia Safitri, mahasiswa prodi Gizi kampus tetangga juga diajak serta menikmati momen selebrasi ini.
“Kebetulan dia juga lulus tahun ini,” katanya sambil melirik sang kekasih yang juga berasal dari Rembang.
Memang ada banyak cara orang mengabadikan momen. Sebuah kata bijak mengatakan: memahat kenangan adalah cara manusia melawan kefanaan. Ya, ada banyak cara manusia memahat kenangan. Bahkan ada pula sebuah pertanyaan dari sebuah film “After Life” tentang kenangan:
“Jika seluruh hidupmu harus diringkas menjadi satu kenangan, kenangan apa yang akan kamu pilih?”
Dalam After Life, orang-orang yang baru meninggal tidak langsung menuju kehidupan setelah kematian. Mereka harus transit dalam alam transisi untuk memilih satu kenangan paling berharga yang akan dibawa dalam kehidupan selanjutnya.
Barangkali saja, dari momen-momen yang diabadikan seperti ini, kelak akan ada satu atau dua orang yang memilih kenangan “after-ujian skripsi” sebagai satu momen yang ingin dikenang atau dipilih untuk dibawa dalam kehidupan selanjutnya. (za)




