
JAKARTA, derapguru.com — Pelaku bisnis tidak boleh hanya berpikir tentang sustainability saja. Mereka juga harus mulai berpikir tentang tanggung jawab moral terhadap lingkungan dan keadilan ekonomi antargenerasi.
Pandangan tersebut disampaikan Tim Dosen UPGRIS yang terdiri atas Dr Fuad Noorzeha MPhil, Dr Agus Sutono MFil, dan Dr E Dwi Prastiyo Hadi MSi saat menyampaikan paper dalam “Pres Symposium 2 – The 7th International Symposium on Earth, Energy, Environmental Science and Sustainable Development yang digelar oleh Universitas Indonesia (UI) , Sabtu 22 Agustus 2026.
“Perusahaan tidak bisa hanya melihat keberlanjutan sebagai kepatuhan terhadap aturan. Tapi juga harus memikirkan etika ekonomi, khususnya bagaimana FinTech dan transformasi digital harus diimplementasikan secara adil,” ungkap Fuad Noorzeha.
International Symposium on Earth, Energy, Environmental Science and Sustainable Development (JESSD) adalah forum ilmiah tahunan berskala global yang diselenggarakan oleh Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia. Pertemuan ini membahas ilmu kebumian, energi, dan lingkungan demi pembangunan berkelanjutan.
Fuad Noorzeha menambahkan, keberhasilan transformasi tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab moral terhadap lingkungan dan keadilan ekonomi antargenerasi. Selain aspek lingkungan, tim peneliti juga menyoroti etika ekonomi, khususnya bagaimana FinTech dan transformasi digital harus diimplementasikan secara adil.
Dalam mempresentasikan paper tersebut, Tim Dosen UPGRIS menekankan, meskipun FinTech Adoption terbukti secara signifikan mendorong Inovasi Hijau (β = 0.893), tim mengingatkan bahwa akses terhadap teknologi ini harus merata.
“Perusahaan tidak bisa hanya melihat keberlanjutan sebagai kepatuhan terhadap aturan. Ini adalah tanggung jawab etis yang harus tertanam dalam budaya organisasi,” ujarnya.
Lebih lanjut Fuad Noorzeha berharap para pemangku kebijakan di ASEAN perlu menyediakan insentif pembiayaan hijau dan program pelatihan kepemimpinan keberlanjutan. Penelitian ini memperkuat bahwa model bisnis yang beretika secara ekonomi dan lingkungan bukan hanya pilihan moral, tetapi juga strategi kompetitif.
“UMKM yang mengintegrasikan nilai-nilai ini akan lebih tangguh dalam menghadapi tantangan masa depan. Kami berharap hasil diskusi hari ini dapat menjadi masukan berharga bagi para pemangku kepentingan yang hadir dalam simposium ini,” tandasnya. (za)




