
SEMARANG, derapguru.com — Langkah preventif dalam upaya mengurangi potensi bencana banjir adalah dengan mengatasi masalah sampah. Hal itu disadari betul SD Muhammadiyah 17 Semarang yang telah mulai menjalankan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang digagas pemerintah sebagai upaya mitigasi di bencana dan
Ketua Magang UPGRIS di SD Muhammadiyah 17, Najwa Salsabila, mengatakan bahwa masalah sampah bukan lagi sekadar isu global, melainkan tantangan harian yang ada di depan mata kita, termasuk di lingkungan sekolah. Menyadari hal ini, SD Muhammadiyah 17 Semarang telah membentuk tim khusus bernama “Prajurit Pemberantas Sampah”.
“Tugas kami mendampingi sekaligus mengedukasi, dan memberikan pelatihan tim khusus ini dalam pengelolaan sampah,” urai Najwa.
Di bawah arahan Dosen Pembimbing, Mudzanatun MPd, para mahasiswa mengajari cara memilah sampah. Cara pemilahan sampah ini diajarkan agar para prajurit yang berpisah bisa mengenali antara sampah organik dan sampah anorganik.
“Mengapa harus dipilah? Karena mencampur sampah organik (sisa makanan, daun) dengan sampah anorganik (plastik, kertas, kaleng) justru mempersulit proses daur ulang dan mempercepat penumpukan di TPA,” ujar Najwa.
Terkait dengan Prajurit Pemberantas Sampah yang mereka dampingi, lanjut Najwa, prajurit tersebut merupakan anak-anak pilihan dari masing-masing kelas. Mereka bertugas untuk memberikan edukasi pada teman sejawat, mengawasi kebersihan, dan menjadi inovator lingkungan.
“Melalui program-program ini, ada beberapa dampak positif yang dapat dirasakan di lingkungan sekolah. Lingkungan menjadi bersih dan nyaman untuk belajar,” ungkapnya.
Selain itu, tambah Najwa, dampak positif lainnya juga terlihat pada perubahan karakter siswa. Melalui program ini, siswa dapat belajar tentang rasa tanggung jawab, kedisiplinan, dan empatik.(za)



