
KENDAL, derapguru.com – Kolaborasi siswa dari sejumlah SMP di Kabupaten Kendal menjadi sebuah pertunjukan drama kolosal dengan naskah “Baru Klinting” dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026 di SMP Negeri 4 Cepiring pada Sabtu, 2 Mei 2026.
Mereka adalah siswa dari SMP Negeri 1 Pegandon, SMP Negeri 1 Cepiring, SMP Negeri 4 Cepiring, SMP Negeri 2 Brangsong, dan SMP Negeri 2 Kendal yang tergabung menjadi teater “Little Star”. Little Star merupakan teater binaan dari teater Atmosfer yang diketuai oleh Akhmad Sofyan Hadi. Pria yang akrab dipanggil Iyan tersebut bersama anggota teater Atmosfer yang juga merupakan pendidik di beberapa sekolah ini merespon adanya peluang kolaborasi untuk menyatukan siswa berbakat dari berbagai sekolah dalam satu panggung pertunjukan.
“Dalam peringatan hari Pendidikan nasional, kami mencoba hal baru, dengan mengajukan usulan sebuah pertunjukkan yang turut memeriahkan hari Pendidikan nasional tahun 2026 ini melalui penampilan siswa-siswa SMP yang selama ini tentu memiliki bakat dan keahlian dalam kesenian, apalagi mereka berpengalaman ikut lomba bahkan ada yang pernah juara ” ujar Iyan.
Teater yang baru terbentuk di Tahun 2026 ini merupakan teater yang mewadahi siswa SMP dalam menuangkan bakat keseniannya agar tidak semata-mata tidak hanya dalam bentuk perlombaan yang berhenti di kalah dan menang saja. Guru-guru yang tergabung dalam Teater Atmosfer ini kemudian memberi ruang untuk siswa berproses kesenian dengan bahagia dengan pengalaman yang baru melalui kolaborasi dengan siswa sekolah lain.
Meski demikian, tantangan juga menyertai dalam perjalanan menuju pentas mengingat jarak sekolah yang berbeda-beda dan waktu latian yang dibutuhkan juga berbeda-beda. Namun hal ini tidak menyurutkan semangat pentas siswa-siswa tersebut beserta pelatihnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal, Drs Ferinando RAD Bonay, yang turut menyaksikan drama kolosal tersebut pun merespon dengan kagum pada penampilan siswa SMP dan mendukung penuh potensi kesenian dari para siswa di Kabupaten Kendal.
“Kalau melihat pementasan (drama kolosal) tadi sudah sangat baik. Anak-anak punya bakat yang luar biasa. Meski dengan Latihan yang cukup singkat, mereka bisa menampilkan teater dengan baik. Kita berharap dengan adanya ini, kesenian di Kendal bisa lebih berkembang lagi.” ucap Feri.
Naskah “Baru Klinting” dipilih dan dianggap pas dalam momen ini, karena menceritakan seorang anak berwujud naga yang sedang mencari pengakuan ayahnya, Ki Hajar Salokantara. Belum sempat berhasil menyelesaikan ujian bertapa, ia berubah menjadi bocah manusia dan datang menguji hati penduduk desa. Karena penampilannya, ia dihina dan diusir oleh warga desa yang sombong, kecuali oleh seorang janda tua bernama Nyai Latung.
Mengaitkan dalam momen hari Pendidikan nasional, sang sutradara menyampaikan pesan bahwa Baru Klinting sebagai anak yang awalnya terlihat biasa saja dan diremehkan ternyata memiliki bakat dan kemampuan luar biasa dibandingkan dengan anak lain. Sama halnya dengan seorang murid. Murid yang di sekolah terlihat tidak bisa, atau terlihat biasa saja dan diremehkan, bisa saja memiliki bakat lain yang luar biasa.
“Baru Klinting sebagai anak yang awalnya terlihat biasa saja bahkan diremehkan orang lain ternyata memiliki bakat dan kemampuan luar biasa. Sama halnya dengan seorang murid. Murid yang di sekolah terlihat tidak bisa, atau terlihat biasa saja dan diremehkan, bisa saja memiliki bakat lain yang luar biasa. Hal ini tentu menjadi perhatian untuk semua guru agar lebih bisa mencari celah potensi yang ada dari setiap murid” kata Iyan.
Lebih lanjut, Iyan berharap akan ada kesempatan lagi untuk siswa berkolaborasi dalam sebuah pertunjukan kolosal sebagai bentuk respon cerita rakyat setempat di wilayah Kendal sekaligus mempertahankan folklor atau budaya setempat dengan media teater agar menarik perhatian siswa dan Masyarakat. (Eva Dwi Susanti)



