Home > UPGRIS > Guru Harus Mampu Kelola ‘Stress’ dan ‘Burn-out’

Guru Harus Mampu Kelola ‘Stress’ dan ‘Burn-out’

Agenda: PKM Pengelolaan Stress dan Burn-Out
Reporter: Tim Redaksi.

SEMARANG, derapguru.com – Tidak ada pekerjaan yang bebas dari tekanan, termasuk profesi guru. Tekanan-tekanan pekerjaan yang berlebihan membuat guru rentan mengalami stress yang berujung pada burnout. Burn-out adalah kondisi stress kronis yang dialami pekerja sehingga dirinya merasa lelah secara fisik, mental, dan emosional gara-gara pekerjaan yang sedang dihadapinya.

Hal tersebut disampaikan Pakar Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental dari UPGRIS, Dr Padmi Dhyah Yulianti SPsi MPsi, saat memberikan Pelatihan Pengelolaan Stress dan Burn-out nagi Guru dan Tenaga Kependidikan di SD Hj Isriati Baiturahman 2 Semarang, baru-baru ini.

“Tekanan-tekanan (stress) dan burn-out yang tidak ditangani secara baik bisa berdampak pada rendahnya produktivitas guru dan memburuknya kemampuan guru dalam menjalin hubungan positif dengan orang lain,” tutur Padmi dalam pelatihan yang juga digunakan untuk Program Pengabdian kepada Masyarakat tersebut.

Padmi menambahkan, adanya tekanan/stress sebetulnya bersifat normal, tapi stress yang berlebihan dapat mengganggu kemampuan guru maupun tenaga kependidikan dalam menyelesaikan pekerjaan. Tidak hanya mengganggu dalam pekerjaan, stress juga dapat membuat orang yang terkena kehilangan motivasi untuk menjalani kehidupan.

“Upaya yang dapat dilakukan untuk mempertahakan diri dalam menghadapi stres adalah melalui coping stress. Coping atau coping stress merupakan sebuah proses untuk mengatur atau mengatasi tekanan secara internal maupun eksternal yang dianggap membebani batas kemampuan dari individu,” tandas Padmi yang melakukan pengabdian bersama Dra Wiwik Kusdaryani MPd, Dr Yovitha Juliejantiningsih MPd, dan Dr G Roehastono Ajie MPd.

Dalam konteks pelatihan ini, lanjut Padmi, guru-guru dilatih untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan dari lingkungan dan meminimalisir kesenjangan antara tuntutan di luar individu dengan kemampuannya. Melalui pengelolaan stres dan burnout guru diharapkan lebih optimal dalam menjalankan peran dan fungsinya, memiliki kualitas pembelajaran yang memadai serta meningkatnya hubungan positif antara rekan kerja dengan atasan dan meningkatnya produktivitas kerja di sekolah. (za)

 

You may also like
PGRI Temanggung: Diminta Tak Diminta PGRI Harus Hadir
Kampus Harus Hasilkan Lulusan Kompetitif
Dunia Pendidikan Harus Cepat Beradaptasi
Rektor UPGRIS: Pendidikan Tinggi Adalah Ujung Tombak

Leave a Reply