Home > D’PGRI > Dr Muhdi: Hubungan Kepengurusan Makin Luar Biasa

Dr Muhdi: Hubungan Kepengurusan Makin Luar Biasa

Agenda: Rakor PGRI se-Eks Krasidenan Semarang
Reporter: Tim Redaksi

 

SEMARANG, derapguru.com – Ada banyak pencapaian positif yang banyak ditemukan dalam organisasi di beberapa tahun terakhir. Beberapa hal positif tersebut antara lain komitmen anggota yang semakin bagus. Kegiatan organisasi yang semakin beragam. Kepengurusan Kabupaten/Kota yang semakin berjaya. Dan hubungan antarkepengurusan, baik kepengurusan provnsi, kabupaten/kota, cabang, sampai ranting yang makin luar biasa.

Berbagai tren positif ini harus terus dijaga dan diperkuat, agar organisasi semakin disegani dan dihormati oleh mitra maupun masyarakat. Tidak hanya itu saja, perkembangan positif organisasi ini juga harus dikembangkan agar semua bagian organisasi dapat bergerak optimal untuk kepentingan pendidikan, tenaga kependidikan, guru, dan masyarakat.

“Satu hal yang saya rasakan betul, hubungan kepengurusan provinsi, kabupaten/kota, cabang, sampai ranting makin luar biasa. Ini yang harus terus kita pupuk dan jaga agar PGRI semakin dihormati dan disegani oleh mitra dan masyarakat,” tutur Dr Muhdi dalam Rapat Koordinasi Wilayah Pengurus PGRI se-Eks Krasidenan Semarang dengan tema ‘Transformasi Guru Wujudkan Indonesia Maju’ di Aula PGRI Kabupaten Kendal, Jumat 14 Oktober 2023.

POSITIF: Ketua PGRI Jateng, Dr H Muhdi SH MHum, menyampaikan tren positif organisasi. Foto: Agus Wismanto.

Dr  Muhdi menuturkan, segala hal positif ini dapat tercapai karena usaha keras untuk lebih berdaya upaya dengan menciptakan berbagai bidang usaha. Kebrhasilan dalam membangun bidang-bidang usaha inilah yang membuat organisasi ini makin lebih berdaya guna dan kokoh. Untuk itu, Dr Muhdi meminta ke depan masalah pengembangan bidang usaha makin dibesarkan untuk menciptakan kemandirian organisasi.

“Saya ucapkan terima kasih atas pencapaian-pencapaian ini. Usaha keras dan keuletan pengurus Kabupaten/Kota telah membuat PGRI lebih berdaya. Datang ke Kendal, bikin acara bisa sewa Gedung PGRI Kendal, gedungnya sudah mirip dengan hotel. Datang PGRI Kabupaten Semarang, ada usaha kerajinan yang lengkap. Ke PGRI Kabupaten Grobogan ada bisnis jual beli buku. Semua PGRI Kabupaten/Kota rata-rata sudah mandiri dan berdaya usaha. Ini yang membanggakan saya,” tutur Dr Muhdi.

Lebih lanjut Dr Muhdi meminta, supaya para pengurus PGRI Kabupaten/Kota saling bekerjasama dan bertukar pengalaman usaha. Bila ini dapat dilakukan, organisasi ini pada setiap daerah akan semakin berkembang dan menguat sehingga bisa membuat organisasi semakin kokoh dan mandiri. Dengan organisasi yang kuat, tantangan-tantangan organisasi akan lebih mudah dihadapi organisasi.

KENDAL: Pengurus PGRI Kendal hadir mengikuti rapat koordinasi. Foto: Agus Wismanto.

“Ada banyak Gedung PGRI yang mewah di Kabupaten/Kota di Jawa Tengah. Para pengelola bisa saling bertukar cara pengelolaan supaya hasil yang didapatkan dapat optimal. Bisa juga dengan mempelajari usaha kabupaten/kota yang lain. Misalnya, bagaimana bisa memiliki usaha jual beli buku yang hebat ke PGRI Grobogan. Masak yang belajar kesana malah salah satu PGRI dari Provinsi DIY,” tutur Dr Muhdi.

Kemampuan PGRI membangun bidang usaha akan membuat organisasi ini semakin kokoh dari segala sisi. Harapannya, oerrganisasi ini akan terus berkembang menjadi organisasi yang mandiri secara finansial sehingga dapat melayani pendidikan, tenaga kependidikan, guru, dan masyarakat luas dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Ketua PGRI Kota Semarang, Dr Nur Khoiri MPd, menuturkan, berbagai pencapaian yang telah diperoleh PGRI di wilayah Jawa Tengah harus makin memperluas cara perjuangan. Bila pada masa lalu, PGRI hanya mengurusi masalah teknis—hanya menjadi pelaksana—kebijakan pemerintah. PGRI sudah saatnya terlibat dalam penataan kebijakan pendidikan yang selama ini kurang dibentuk untuk menuju kebijakan yang mencerdaskan kehidupan bangsa.

AMANAT: Ketua PGRI Kota Semarang, Dr Nur Khoiri, mengingatkan amanat konferensi yang menugasi Ketua PGRI Jateng maju dalam kontestasi DPD Jateng. Foto: Agus Wismanto.

“Kita sudah bersepakat untuk memperluas perjuangan organisasi untuk turut mengatur kebijakan pendidikan di negeri ini. Maka amanah organisasi untuk menugasi Ketua PGRI Jateng, Dr H Muhdi SH MHum, untuk maju dalam kontetasi DPD Jateng harus kita kawal dengan baik,” tutur Dr NUr Khoiri.

Lebih lanjut Dr Nur Khoiri meminta, semua pengurus Kabupaten/Kota untuk memastikan informasi maupun kebijakan organisasi sampai pada anggota paling bawah. Jangan hanya menjadi kebijakan di level pengurus, tapi informasi dan kebijakan harus sampai pada anggota di lapangan.

“Amanah organisasi, memperluas perjuangan. Pastikan informasi sampai anggota. Cabang, ranting, jangan hanya heboh di ruangan. Semua informasi harus sampai pada saudara-saudara kita yang ada di lapangan,” tandas Dr Nur Khoiri.

SEMARANG: Beberapa pengurus PGRI Kota Semarang terlihat hadir dalam agenda tersebut. Foto: Agus Wismanto.

Ketua PGRI Kabupaten Kendal, Supoyo MPd, menambahkan pentingnya untuk memiliki

KENDAL: Ketua PGRI Kendal menyampaikan beberapa tantangan guru pada saat ini. Foto: Agus Wismanto.

keterwakilan organisasi dalam kancah penentu kebijakan. Saat ini ada banyak masalah yang sering dihadapi guru yang tidak bisa diselesaikan kecuali melalui lahirnya kebijakan perundangan. Maka sangat penting kiranya, bila organisasi ini memiliki keterwakilan di bidang legislasi yang bisa terlibat dalam pembuatan perundangan perlindungan profesi guru dalam menjalankan tugas profesi.

“Ada beberapa hal yang selalu jadi rintangan, tantangan, dan halangan, yaitu pejuang tanpa pamrih para guru untuk mendidik anak, sering menjadi objek hukum. Bila ada apa-apa guru langsung dipolisikan. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab guru. Orang tua juga punya tanggung jawab. Pemerintah juga punya tanggung jawab. Tapi kenapa guru selalu dipolisikan oleh sesama penanggung jawab ketika sedang mendidik. Tugas membuat regulasi dalam menangani inilah yang nanti kita titipkan bila nanti Pak Muhdi jadi DPD Jateng,” tutur Supoyo.

Supoyo menambahkan, ada tantangan lain yang juga sering dihadapi guru, yakni guru selalu menjadi objek yang dicari-cari kesalahannya serta menjadi korban kebijakan pendidikan yang selalu merepotkan tapi kebijakan itu mestinya tidak perlu atau tidak berdampak signifikan bagi pencerdasan geberasi bangsa. Ibarat sebagai penggembala, apapun masalah yang terkait dengan gembala, cara menggenbala, semuanya menjadi cara untuk mencari-cari kesalahan guru.

GROBOGAN: Delegasi PGRI Grobogan juga terpantau hadir dalam kegiatan. Foto: Agus Wismanto.

“Tidak sedikit yang memusuhi kita. Entah karena apa. Selalu ada yang membenci guru, padahal mereka dulu juga dididik guru. Maka inilah arti pentingnya kita memiliki orang yang bisa mewakili kita dalam penentuan kebijakan. Agar ada regulasi yang bisa melindungi guru dari masalah-masalah ini. Agar guru-guru kita bisa bekerja baik tanpa tekanan dan generasi-generasi penerus bangsa kita semakin cerdas dan unggul,” tandas Supoyo. (za/wis)

You may also like
Dr Muhdi: Saya Ingin Pendidikan Lebih Baik
Insyaallah, Guru Masuk Surga Paling Tinggi
PGRI Kabupatan/Kota Semakin Mandiri
PGRI Fokus Pada Tiga Tujuan Perjuangan

Leave a Reply