SEMARANG, derapguru.com — Sebuah kampus masa kini harus bisa menjawab berapa lama seorang mahasiswa untuk bisa lulus dari kampus tersebut. Bila ada kampus tidak bisa menjawab berapa lama mahasiswanya untuk lulus, artinya kampus tersebut sedang tidak bertanggung jawab.
Kritik tajam terhadap tata kelola pendidikan di kampus tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Diktisaintek), Prof Dr Fauzan MPd, saat memberikan orasi ilmiah dalam acara Dies Natalis ke-45 Universitas PGRI Semarang, Kamis 23 Juli 2026.
“Saya telah berkeliling ke berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Selalu saya bertanya pada pimpinannya. Pertanyaannya, kalau kira-kira mahasiswa kuliah di tempat bapak ibu mahasiswa untuk bisa lulus berapa lama? Maka selalu tidak banyak yang bisa memberikan kepastian, tetapi jawaban generiknya adalah ‘bergantung anaknya’,” urai Prof Fauzan.
Prof Fauzan menambahkan kampus-kampus yang selalu menjawab kelulusan mahasiswanya bergantung mahasiswa adalah kampus-kampus yang masih menggunakan paradigma lama. Kampus-kampus masa kini haruslah berbeda, harus mampu memberikan kepastian bagi mahasiswanya, berapa lama bagi mahasiswanya untuk bisa lulus.
“(Tak bisa memberi kepastian lulus) Itu adalah mindset lama. Jawaban itu hanya bisa hidup di tahun 70an. Untuk tahun 2026 ke depan, kita harus memiliki paham, bahwa kalau ada kampus ditanya berapa lama mahasiswa bisa lulus di kampus itu dan jawabnya dengan kata-kata ‘bergantung anaknya’, itu artinya pimpinan kampus, warga kampus sedang tidak bertanggung jawab,” urai Prodi Fauzan.
Di tengah pusaran perubahan, lanjut Prof Fauzan, hanya kampus yang adaptif saja yang mampu mempertahankan diri dari ancaman. Kampus harus mulai berani untuk jujur. Di tengah perubahan sebesar ini apakah model universitas yang sedang dibangun saat ini masih cukup untuk menjawab kebutuhan zaman?
Pertanyaan tersebut bukan untuk membangkitkan keraguan melainkan untuk menumbuhkan keberanian. Karena ancaman terbesar bagi sebuah universitas bukanlah perubahan itu sendiri melainkan ketika universitas merasa tidak perlu berubah, sementara tuntutan masyarakat terus berkembang dan berubah.
“Universitas pada hakikatnya tidak untuk menyongsong masa lampau. Akan tetapi, kehadiran universitas di tengah -tengah masyarakat adalah untuk menyiapkan generasi lebih baik pada masa yang akan datang. Dari sinilah seharusnya kehadiran perguruan tinggi yang tidak mau ketinggalan terhadap perubahan berada. Maka tiada pilihan lain bagi perguruan tinggi bila tidak untuk terlibat dalam perubahan itu sendiri,” tandas Prof Fauzan.
Rektor UPGRIS, Dr Sapto Budoyo SH MH, menyampaikan bahwa dalam tumbuh kembangnya UPGRIS, ada banyak keberhasilan dan prestasi yang berhasil diraih. Puluhan penghargaan bergengsi berskala lokal, nasional, dan internasional yang membuat kampus ini sangat kompetitif.
Kendati demikian, kampus UPGRIS juga menyadari, keberhasilan sebuah universitas, tidak hanya ditentukan melalui penghargaan semata, melainkan seberapa besar sisi kebermanfaatan kampus.
“Kami meyakini, ukuran keberhasilan sebuah universitas bukan semata-mata karena penghargaan yang diraih tapi seberapa besar manfaat yang mampu diberikan,” urai Sapto Budoyo.
Untuk itu, Sapto Budoyo menambahkan, pihaknya akan akan meningkatkan pencapaian tersebut dan menambahkan sisi kebermanfaatan dalam pengembangan kampus. Para mahasiswa juga akan dibekali dengan kompetensi-kompetensi tertentu sesuai dengan bidangnya. Agar ketika mereka lulus nanti, mereka bisa berkontribusi dan mampu memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat.
“Kami ingin setiap lulusan UPGRIS tidak hanya siap bekerja, tapi siap berkarya, memimpin, berinovasi, dan memberikan manfaat bagi lingkungannya,” ungkap Sapto Budoyo.
Sementara itu Pembina Kampus UPGRIS, Dr H Muhdi SH MHum, memberikan apresiasi setinggi-tingginya pencapaian yang telah didapatkan Kampus UPGRIS. Harapannya, segala pencapaian tersebut dapat terus ditingkatkan pada masa mendatang tanpa melupakan sisi kebermanfaatan kampus bagi masyarakat.
‘Kami mengapresiasi Rektor Senior, Ibu Dr Hj Sri Suciati MHum, yang empat tahun telah membangun UPGRIS dengan prestasi-prestasi. Pasti capaian-capaian itu kami harapkan ke depan dapat terus ditingkatkan,” urai Muhdi.
Muhdi menambahkan, berbagai macam prestasi yang telah diraih tersebut menunjukkan bahwa UPGRIS tidak bertumbuh dalam ukuran melainkan juga bertumbuh dalam kualitas. “Dan inilah kami ingin menandai makna sesungguhnya dalam Dies Natalis yang harus terus diakselerasi, yakni selalu memberikan dampak yang nyata bagi pendidikan, masyarakat, bangsa, dan negara,” pungkasnya. (za)



