
DEMAK– derapguru.com
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Kelompok 33 Desa Margohayu bersinergi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak, Perpusdes Mulia Margohayu, PKK Mulia Margohayu serta Relawan Literasi Masyarakat mengambil langkah nyata dalam mendukung program kesehatan dan ekonomi nasional.

Mereka menggelar penyuluhan Budidaya Ikan dalam Galon (Budikdalon) dengan tema “KKN UPGRIS Mengabdi: Sinergi Program Budikdalon dalam Rangka Pemenuhan Gizi Rumah Tangga, Pencegahan Stunting, dan Ketahanan Pangan”. Kegiatan ini sukses dilaksanakan di GOR Serbaguna Desa Margohayu, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, pada Selasa (18/8).
Program diinisiasi sebagai bentuk implementasi dari visi unggulan UPGRIS, khususnya Gerakan Mahasiswa Peduli Stunting (Mahasiswa Penting), penguatan ketahanan pangan lokal, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis kewirausahaan. Kegiatan strategis ini dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak Arief Sudaryanto, S.Sos., M.Si., Camat Karangawen Masdaru, S.IP., M.M., Kepala Desa Margohayu Ahmad Sokeh, Perangkat Desa, Ketua Perpusdes Mulia Margohayu, kader PKK, kader Posyandu, serta masyarakat desa setempat.

Pada kesempatan ini, Arief Sudaryanto, S.Sos., M.Si. selaku Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak serta Camat Karangawen, Masdaru, S.IP., M.M., memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif para mahasiswa KKN UPGRIS. Menurutnya, pemanfaatan galon bekas untuk budidaya pangan mandiri adalah langkah cerdas untuk membantu perekonomian warga. “Ini salah satu langkah pemberdayaan dan mengurangi serta menekan kebutuhan keluarga,” tutur Masdaru dalam sambutannya.
Hadir sebagai narasumber utama, Rofiqoh Nur Su’udiyah, S.Pi., M.M., Penyuluh Perikanan KKP Wilker Kabupaten Demak dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak.
Ia memaparkan materi mengenai teknik sederhana memelihara ikan lele di dalam galon yang dipadukan secara terintegrasi dengan tanaman sayuran, seperti kangkung atau sawi di bagian atasnya (sistem akuaponik).
“Sekarang, digaungkan ketahanan pangan dalam rumah tangga itu sendiri. Jadi kita tidak perlu beli di pasar. Dengan kita bisa membudidayakannya sendiri—lele yang mungkin di atasnya dikasih tanaman seperti kangkung atau sawi—itu minimal bisa menyediakan bahan pangan dan memenuhi gizi untuk keluarga serta rumah tangga sendiri,” jelas Rofiqoh.
Lebih lanjut, Rofiqoh menambahkan bahwa jika diterapkan secara masif, Budikdalon memiliki potensi ekonomi yang besar bagi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Hasil panen berkala tidak hanya untuk konsumsi pribadi, tetapi bisa dijual dalam bentuk segar maupun olahan makanan bernilai tambah. Bahkan dalam jangka panjang, gerakan ini berpotensi mengubah Desa Margohayu menjadi Desa Wisata berbasis kemandirian pangan.

Mewakili pihak desa, Rohmad selaku perangkat desa menyampaikan harapan agar program dari mahasiswa KKN UPGRIS ini tidak berhenti pasca-sosialisasi, melainkan dirawat secara berkelanjutan oleh warga. “Semoga program ini membawa manfaat, membawa berkah bagi masyarakat dan menjadi langkah kecil menuju desa yang lebih mandiri,” ungkap Rohmad.
Melalui penyuluhan Budikdalon ini, KKN UPGRIS Kelompok 33 berharap dapat memicu kesadaran masyarakat Desa Margohayu dalam memanfaatkan pekarangan sempit, menekan angka stunting melalui pemenuhan gizi protein ikan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru yang berkelanjutan.(KKN 33 UPGRIS 26 /Wis)




