
SEMARANG, derapguru.com — Olahraga futsal menjadi salah satu olahraga yang mampu memikat masyarakat Indonesia. Olahraga ini sama populernya dengan permainan sepakbola dan bulutangkis. Bahkan, turnamennya juga banyak dilakukan berbagai lapisan masyarakat.
Hal ini membuat banyak sekolah memasukkan olahraga futsal dalam materi pembelajaran di sekolah. Sayangnya, meski banyak diterapkan di sekolah, masih banyak guru yang belum mendapatkan atau belum pernah mengikuti bimbingan teknik (bimtek) pembelajaran permainan futsal.
Hal tersebut disampaikan oleh Danang Aji Setyawan SPd MPd, dalam acara “Bimtek Meaningful Futsal Education” yang digelar di GOR Bambu Runcing, Kowangan, Temanggung, Senin 7 September 2026.
“Banyak yang belum mendapatkan bimtek futsal. Apalagi Bimtek Meaningful Futsal Education yang secara khusus memberikan bimbingan teknis untuk proses edukasi,” ungkap Danang.
Danang menambahkan, Pendekatan Meaningful Physical Education (MPE) menempatkan pengalaman gerak yang bermakna–bukan sekadar kebugaran fisik semata–sebagai tujuan utama pembelajaran PJOK.
“Seluruh struktur latihan pada bimtek ini, meliputi pemanasan berbasis permainan, progresi ball mastery, rotasi koordinasi, hingga small-sided games bertema, sengaja dirancang mengacu pendekatan Meaningful Physical Education (MPE),” lanjut Danang.
Lebih lanjut Danang menuturkan Pembelajaran Futsal yang menyertai kegiatan Bimtek dirancang dengan konsep: Pertama, Fun — dikemas lewat nama, tema cerita, dan musik pada tiap permainan (Animal Race, Treasure Hunt Dribble, Mini World Cup, dsb) agar anak tertawa dan antusias, bukan sekadar “berlatih” .
Kedua, Fair Challenge (Tantangan yang Sesuai) — setiap permainan dilengkapi opsi “Lebih Mudah” dan “Lebih Menantang” agar tingkat kesulitan menyesuaikan kemampuan tiap anak, bukan satu ukuran untuk semua. Ketiga, Kompetensi Motorik (Motor Competence) — progresi ball mastery bertahap dan rotasi empat pos koordinasi membangun rasa mampu anak terhadap gerak dan bola secara berjenjang.
Keempat, Interaksi Sosial dengan Teman — permainan berpasangan/berkelompok (Partner Mirror, Kotak Umpan Berantai, small-sided games 4v4) menumbuhkan kerja sama, komunikasi, dan rasa memiliki tim. Kelima, Interaksi Sosial dengan Guru — Bagian I menekankan apresiasi atas usaha (bukan hanya hasil) dan pengamatan aktif guru terhadap kondisi anak, memperkuat hubungan suportif guru–siswa.
“Dan keenam, pembelajaran yang Relevan secara Pribadi (Personally Relevant Learning) — anak diberi ruang memilih nama “negara” sendiri (Mini World Cup), merangkai kombinasi gerak versi sendiri (Kombinasi Bebas), dan berbagi pengalaman pada Ling,” ungkap Danang. (za)




