
Banjarnegara, derapguru.com-Kemerdekaan Indonesia sangat ditentukan oleh kekuatan rakyat sipil dalam upaya mempertahankannya. 99,7 persen yang gugur dalam perang revolusi kemerdekaan Indonesia adalah warga sipil yang ikut berjuang.
Hal itu diungkapkan oleh Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara Heni Purwono Minggu, 16 Agustus 2026 malam, saat mengisi renungan Malam Tasyakuran Kemerdekaan RI ke 81 di RT 2 RW 1, Desa Petambakan, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara.
“Menurut David Van Reibrouck, dalam catatan PBB populasi Indonesia saat itu 68 juta orang. Kematian akibat perang 4 juta orang atau 6 persen. Angka itu tertinggi ke 5 di dunia setelah Uni Soviet, Cina,
Jerman, Polandia, Indonesia, Jepang. Dan dari angka itu, 99,7 persen adalah warga sipil!,” tandas Heni.
Ia mencontohkan data di Banjarnegara, antara Agresi Militer Belanda 1 dan 2 (1946-1949) saja tidak kurang dari 71 warga sipil gugur fan hampir 300 rumah dibakar.
“Itu yang saya baca dari buku Banjarnegara Berjuang karya Makhlani. Angkanya saya yakin tidak jauh dari itu. Ini memperkuat dugaan saya bahwa Belanda melakukan kejahatan perang tidak hanya di Sulawesi dengan Westerling atau di Rawa Gede Jakarta, namun merata di seluruh Indonesia. Saya rasa ke depan perlu dikaji untuk kita bisa menuntut kejahatan perang itu ke Mahkamah Internasional” tambah Heni.
Karena kekuatan sipil menjadi penentu, tambah Heni lagi, maka mustinya hal itu menjadikan siapa saja yang meremehkan kekuatan rakyat kecil untuk berpikir ulang. Karena dalam sejarah paska kemerdekaan pun, kekuatan rakyat menjadi penentu jalannya bangsa ini.
“Elit politik harus memahami jiwa masyarakat dan tidak memaksakan kepentinganya sendiri, apa lagi menyakiti rakyat bertubi-tubi kalau tidak ingin terjadi lagi revolusi. Peristiwa tahun 1965 dan 1998 tentunya menjadi sejarah untuk diambil hikmahnya bagi siapa saja yang berkuasa di Indonesia,” pungkas Heni.
Selain acara tasyakuran, di Desa Petambakan juga akan diramaikan dengan jalan sehat, lomba-lomba dan juga parak ikan lele untuk memeriahkan hari kemerdekaan. Sebelumnya, desa ini juga telah melaksanakan lomba paduan suara PKK antar RT dan juga lomba kebersihan lingkungan. Desa ini merupakan desa bersejarah, tempat pahlawan yang juga Bupati Banjarnegara ke 3 Mangunyudha Seda Loji dimakamkan setelah gugur melawan VOC di Kartasura dalam Geger Perang Pracina. (Herni)



