
Banyak pihak menyatakan, bahwa pendidikan adalah pondasi utama dan kunci kemajuan suatu bangsa. Pendidikan diyakini tidak hanya berfungsi untuk mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai alat startegis untuk membangun dan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, membentuk karakter bangsa, serta sarana mewujudkan tujuan bernegara sebagaimana termaktub dalam mukadimah UUD 1945.
Menyadari pentingnya Pendidikan bagi kemajuan bangsa, maka setiap tanggal 2 Mei, yang merupakan hari kelahiran tokoh Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara, selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Bagaimana pandangan guru dan praktisi Pendidikan memaknai peringatan Hardiknas. Apakah filosofi Pendidikan dari Ki Hajar Dewantara, “Ing Ngarso Sung Tuladha, In Madyo Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani”, masih relevan dan diteladani para guru serta pemimpin pendidikan?.
Derapguru.com mengulasnya dalam beberapa tulisan, dengan menampilkan pendapat sejumlah nara sumber, dari berbagai jenjang Pendidikan dasar dan menengah di Jawa Tengah.
Keteladanan Yang Utuh
Dr. Saptono Nugrohadi, MPd, MSi, guru SMAN 3 Salatiga, mengungkapkan, Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026 seharusnya tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi momentum untuk meneguhkan kembali bahwa pendidikan adalah ruang tumbuh manusia, bukan sekadar pemenuhan sistem.

Di tengah berbagai kebijakan dan perubahan, yang paling penting adalah memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar hadir di kelas terasa oleh guru, dipahami siswa, dan didukung lingkungan.
“Pendidikan yang bermakna bukan yang paling banyak programnya, tetapi yang paling terasa dampaknya bagi guru dan murid,” ujar Dr Saptono yang pernah meraih prestasi sebagai guru berprestasi nasional ini menjelaskan.
Karena itu, kata Saptono, Hardiknas perlu dimaknai sebagai upaya bersama untuk merawat proses belajar yang utuh yang adil, manusiawi, dan memberi harapan bagi masa depan.
Untuk itu, tambah Saptono, hal yang perlu diteladani oleh guru dan pemimpin bangsa dari filosofi Ki Hajar Dewantara adalah keteladanan yang utuh dalam peran dan sikap. “Saat di depan mampu memberi contoh nyata yang jujur dan berintegritas, di tengah mampu membangun semangat, mendengar, dan menggerakkan, serta di belakang mampu memberi kepercayaan sekaligus dukungan agar setiap individu tumbuh mandiri”, jelas Saptono menegaskan.
Filosofi ini menurut Dr Saptono menegaskan, bahwa kepemimpinan bukan tentang posisi, tetapi tentang pengaruh yang menumbuhkan. “Pemimpin sejati tidak berjalan di depan untuk ditakuti, tetapi hadir di setiap posisi agar orang lain berani melangkah.” Ujar Dr Saptono yang juga Wakil Sekretaris Umum PGRI Jateng ini mengingatkan.
Persoalan Guru
Ardan Sirrodjudin, MPd, Kepala SMKN Jateng di Semarang, mengungkapkan apa yang dilakukannya sebagai pemimpin Pendidikan di sekolah. Diungkapkan, persoalan utama guru saat ini, khususnya guru SMK terletak pada dua hal mendasar, yakni kualitas dan kompetensi yang belum sepenuhnya optimal, serta kesenjangan antara kurikulum dengan kebutuhan dunia industri.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Ardan mengaku telah menerapkan sejumlah strategi konkret yang berfokus pada peningkatan kompetensi guru dan penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri. “Salah satu langkah utama adalah mendorong guru untuk terjun langsung ke dunia kerja melalui program magang di industri. Dengan cara ini, guru diharapkan mendapatkan pengalaman nyata serta memahami standar kerja yang berlaku di lapangan”, ujar Ardan menjelaskan.
Ditambahkan, selain program magang, sekolah juga mengintensifkan pelatihan di berbagai Balai Besar serta menjalin kerja sama erat dengan perusahaan. Program ini dirancang agar guru tidak hanya memahami teori, tetapi juga menguasai praktik dan perkembangan teknologi terkini.
Di sisi lain, kata Ardan, penyelarasan kurikulum juga dilakukan melalui forum diskusi bersama antara sekolah dan dunia industri. Melalui Focus Group Discussion (FGD), kedua pihak duduk bersama untuk merumuskan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Pendekatan ini dinilai efektif untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia industri.
SMKN Jateng di Semarang juga mengembangkan model pembelajaran berbasis proyek nyata atau Project-Based Learning (PjBL). “Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengerjakan proyek yang relevan dengan kebutuhan industri. Dengan demikian, siswa terbiasa menghadapi tantangan riil dan memiliki kesiapan kerja yang lebih matang”, jelas Ardan.
Lifelong Learning
Ardan yang sebelumnya menjadi Kepala SMKN 10 Semarang ini menyatakan, untuk membangun semangat guru agar tetap profesional dan adaptif terhadap perubahan, ia tegaskan pentingnya budaya belajar yang konsisten di kalangan pendidik. “Kami memiliki program GTK Belajar, di mana setiap pekan pada hari Sabtu dan Minggu guru-guru saya dorong untuk belajar. Materi pembelajaran langsung diberikan oleh kepala sekolah”, ujar Ardan menjelaskan model kepemimpinan yang ia jalankan.
Dikatakan, tujuan program GTK Belajar ini untuk membangun mindset pembelajar sepanjang hayat (lifelong learning) di lingkungan SMKN Jateng di Semarang.
Melalui program ini, kata Ardan, guru tidak hanya dituntut untuk mengajar, tetapi juga terus berkembang mengikuti dinamika pendidikan. Hal ini dinilai menjadi kunci dalam menciptakan tenaga pendidik yang profesional, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman demi kemajuan Pendidikan. (pur)




