
TEMANGGUNG, derapguru.com –– Masa remaja menjadi fase paling labil dalam lintasan kehidupan manusia. Pada fase ini setiap manusia sedang pada masa ‘galau-galau’nya dalam mencari identitas diri. Bila tidak mendapatkan pendampingan atau penguatan yang baik, mereka sangat rawan terhadap hal-hal yang bersifat negatif.
Alih-alih menjadi generasi emas, bila salah penanganan, yang muncul justru generasi besi berkarat. Sama-sama kuning tapi beda benda dan beda nilai. Maka dari itu, dibutuhkan guru-guru hebat yang bisa mendampingi dan memahami kehidupan mereka secara baik.
Berbekal niat baik inilah beberapa dosen Prodi Bimbingan dan Konseling (BK) UPGRIS yang terdiri atas Dr Padmi Dhyah Yulianti SPsi MPsi Psikolog, Dr Venty SAg MPd, dan MA Primaningrum Dian M SPsi MPsi Psikolog sengaja turun langsung ke lapangan. Mereka ingin terlibat langsung dalam membantu guru-guru BK dalam menangani remaja masa kini berikut dengan segenap perubahan perilakunya.
Bekerjasama dengan kelompok Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) SMA Kabupaten Temanggung, baru-baru ini, mereka menggelar kegiatan bertajuk “Pelatihan Layanan BK Berbasis Digital untuk Penguatan Identitas Remaja pada Komunitas Guru BK SMA di Kabupaten Temanggung”.
Ketua Tim Dosen, Padmi Dhyah Yulianti, menuturkan, pelatihan yang digelar di SMA Negeri 1 Temanggung tersebut menekankan pentingnya transformasi layanan BK dari pendekatan konvensional menuju layanan berbasis digital. Guru BK diharapkan tidak hanya menjadi pendamping akademik dan pribadi-sosial, tetapi juga berperan sebagai mentor digital.
“Ya. Tidak hanya menjadi pendamping akademik dan pribadi-sosial. Tapi juga penjaga kesehatan mental siswa. Membantu mengarahkan dalam pencarian identitas remaja,” ungkap Padmi Dhyah.
Padmi Dhyah menambahkan, peran guru BK yang semakin meluas ini merupakan bentuk adaptasi bimbingan dan konseling di sekolah terhadap perubahan-perubahan peradaban dan perilaku sosial. Terlebih lagi saat ini hantaman budaya-budaya baru seperti budaya validasi digital, FOMO, cyberbullying, dan krisis jati diri terus menghantam generasi muda.
Dalam pelatihan ini, lanjut Padmi Dhyah, peserta mendapatkan penguatan mengenai kesehatan mental remaja di era digital, dinamika pembentukan identitas remaja, serta strategi implementasi layanan BK digital di sekolah. Materi juga membahas pentingnya literasi kesehatan mental, literasi digital kritis, konseling berbasis teknologi, penggunaan media seperti WhatsApp, Google Form, Zoom, Google Meet, Canva, LMS, serta etika layanan BK digital seperti kerahasiaan, Informed consent, dan batas komunikasi profesional.
“Layanan BK Digital bukan sekadar penggunaan teknologi, tetapi perubahan paradigma dalam memahami kebutuhan remaja masa kini,” ungkapnya.
Kepala SMA Negeri 1 Temanggung, Endri Kurniawan SPd MSi, bersama Ketua MGBK SMA Kabupaten Temanggung, Sri Mulyati SPd, dalam sambutannya, memberikan apresiasi positif terhadap kegiatan pelatihan. Pelatihan ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas layanan bimbingan dan konseling di sekolah, khususnya dalam merespons dinamika perkembangan remaja yang semakin kompleks.
“Dengan terselenggaranya kegiatan ini, kami berharap guru-guru BK semakin siap menjadi kompas psikologis bagi siswa, membantu remaja menemukan arah hidup, menjaga kesehatan mental, serta membangun identitas diri yang kuat, sehat, dan bermakna di tengah perkembangan teknologi yang terus berubah,” tandasnya. (za)




