
Banjarnegara, derapguru.com-Kesalah pahaman terhadap budaya sering kali menjadikan masyarakat, utamanya generasi muda, enggan dan akhirnya tidak cinta dengan budaya.
Paling tidak hal itu tersimpul dari dua narasumber Talkshow “Cah Enom Seneng Budaya” yang digelar dalam rangka Banjarnegara Inivation and Culture Fest, Sabtu 21 Juni 2026 di Amphitheater Balai Budaya Banjarnegara. Kedua narasumber tersebut adalah Prof (HC) Dimas Indianto Sastronagoro dan Heni Purwono. Dimas merupakan dosen UIN Syaifuddin Zuhri Purwokerto, sedangkan Heni merupakan guru sejarah SMAN 1 Sigaluh sekaligus Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara.

Dimas mengungkapkan beberapa aspek budaya sering kali dianggap sebagai praktik syirik oleh masyarakat seperti sesaji, dupa dan lain-lain.
“Tidak usah jauh-jauh, kalau kita minum Bodrex (obat sakit kepala), dan yakin bahwa itu yang menyembuhkan, bukan Allah, itu aja sudah syirik kok. Konsep sesaji bisa dimaknai sebagai rasa syukur pada Allah, namun melaui perantataan sesaji, makan bersama dan lain-lain. Termasuk dupa, bukankan sekarang dimana-mana ada aroma therapi. Di mall, di kantor ada aroma kopi misalnya. Itu sama saja, aroma yang menimbulkan ketenangan, kebahagiaan. Jadi jangan apa-apa dianggap syirik,” tegas Profesor HC anugerah dari ASEAN Internasional Universiti Malaysia itu.
Termasuk terhadap keris, tambah Dimas yang juga kolektor keris, ia heran mengapa orang takut dan mengaitkan lagi dengan kesyirikan. Menurutnya, keris tak ubahnya gawai, benda mati yang kadang juga bergerak karena ada energi di dalamnya.

“Masyarakat kita itu sangat ilmiah sebenarnya. Keris juga bisa menyimpan energi. Dahulu orang tua mengobati anak-anak dengan air yang didapat dengan doa. Bukankan penelitian saat ini juga membuktikan bahwa air yang disebutkan dengan kata-kata positif akan menjadikan air itu bermuatan positif. Jadi sangat ilmiah dan sekali lagi tindakan itu tergantung niatnya sebagaimana dalam Arbain Imam Nawawi. Namun memang butuh kesabaran untuk memahamkan masyarakat,” tambah Dimas.
Senada, Heni menambahkan bahwa budaya itu dinamis dan para budayawan sendiri tidak perlu memaksakan generasi muda untuk tampil sebagaimana mereka.
“Misalnya, haruskan berbudaya itu harus pakai sanggul, atau bahkan kemben atau kebaya. Tidak harus. Karena kalau mau meniru apa adanya, tahun 1913 an, di Bali yang nota bene lanjutan budaya Majapahit, perempuan masih terbuka dadanya. Kan itu hal yang tidak mungkin ditiru. Biarkan genzi menerjemahkan cinta mereka terhadap budaya dengan post modernisme mereka. Berbatik namun pakai celana jeans, sepatu sneaker itu tidak apa-apa. Yang penting jiwa dan pemahaman mereka terhadap budaya tumbuh,” ujar Heni.
Heni yang lebih menyorot kebudayaan kebendaan mengatakan cagar budaya yang ada di Banjarnegara sangat lengkap dan beragam mewakili berbagai era dari klasik Hindu Budha, Islam, kolonial hingga kontemporer.
“Di Dieng, puluhan hingga ratusan struktur dan benda cagar budaya ada. Klampok potensial menjadi kawasan cagar budaya. Kalau itu dijaga dan lestarikan dengan baik, ke depan akan jadi energi terbarukan untuk sektor pariwisata masa depan untuk generasi muda saat ini. Jadi penting sekali generasi muda melestarikan budayanya,” tandas Heni.
Kepala Dinbudpar Kabupaten Banjarnegara Tursiman dalam sambutannya mengungkapkan bahwa di tengah keterbatasan anggaran yang ada, Pemkab terus berusaha agar sektor kebudayaan dapat terus dimajukan.
“Kami memiliki aplikasi Dikdaya untuk mendata seluruh budaya yang ada di Banjarnegara. Kesenian kuda kepang saja, ada lebih dari 300 kelompok yang kami bina. Ini potensi yang luar biasa,” ujar Tursiman.
Kabid Kebudayaan Dinbudpar Banjarnegara Kuat Herry Istanto menambahkan, untuk menggeliatkan kebudayaan, ia bersama para pelaku budaya akan bertemu secara periodik setiap Sabtu Kliwon.
“Balai Budaya sudah berada di bawah Dinbudpar pengelolaannya. Akan kita optimalkan agar kegiatan kebudayaan senantiasa marak di sini,” ujar Kuat. (H Pur)




