
SEMARANG,derapguru.com— Masyarakat Jawa tentu tidak asing dengan alat musik bernama gamelan. Alat musik kebudayaan Jawa tersebut adalah mahakarya musik monumental yang berhasil disusun menjadi seni karawitan oleh masyarakat Jawa pada masa lampau.
Kendati diwarisi peralatan seni berkebudayaan tinggi, ternyata banyak orang Jawa yang hanya mewarisinya sebagai sekadar artefak saja, tapi tidak bisa memainkannya. Masyarakat Jawa justru lebih familiar dengan tangga nada oktaf ala Eropa, ketimbang pelog-slendro yang dihasilkan leluhurnya sendiri.

Kondisi memperihatinkan inilah yang mendorong para dosen dan tenaga kependidikan di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) UPGRIS untuk belajar seni karawitan. Melalui gerakan “FPBS Nyeni” yang digelar tiap Kamis sore satu sekali, mereka belajar memainkan berbagai alat musik gamelan mulai Kendang, Bonang, Kenong, Demung, Saron, Gender, Gong, Gambang, berbagai alat instrumen musik lainnya.
Dekan FPBS UPGRIS, Siti Musarokah, mengatakan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memberikan ruang ekspresi bagi dosen dan tenaga kependidikan. Selain itu, kegiatan ini juga digelar sebagai upaya untuk nguri-uri kebudayaan Jawa yang semakin hari semakin tergerus oleh waktu.

“Kami sebagai fakultas yang menyandang nama ‘seni’ dalam nama kami, tentu kami memiliki kewajiban untuk membangun dan membangun suasana seni dalam fakultas ini,” ungkap Siti Musarokah.
Siti Musarokah menambahkan, aktivitas seni dan tradisi Jawa yang dijalankan–terutama dalam aktivitas keseharian fakultas– telah membuat kampus UPGRIS menjadi satu-satunya perguruan tinggi swasta yang memperoleh penghargaan UNS-Jawametrik selama dua tahun berturut-turut.
UNS Jawametrik adalah program pemeringkatan budaya Jawa berbasis teknologi informasi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melalui Pusat Unggulan Ipteks (PUI) Javanologi. Lembaga ini bertujuan memetakan, mengukur, dan memberikan penghargaan kepada institusi pendidikan tinggi di dalam maupun luar negeri atas peran mereka dalam melestarikan serta mengintegrasikan budaya Jawa.
“Kita sudah dua kali memperoleh penghargaan UNS+Javametrik. Tahun depan kita akan menjalani penilaian lagi. Semoga kita bisa memperolehnya lagi,” ungkap Siti Musarokah.
Selain kegiatan “FPBS Nyeni”, l fakultas ini juga memiliki beberapa program lain yang bernama “FPBS Obah” dan “FPBS Ngaji”. “FPBS Obah” untuk memfasilitasi dosen dan tendik untuk olahraga bersama. Sedangkan “FPBS Ngaji” digelar untuk memberikan ruang bagi dosen dan tendik dalam memperkuat sisi spiritualitas. (za)



