
SEMARANG, derapguru.com — Sepeninggalan Sultan Agung Hanyakrakusumo, sang putera mahkota Raden Mas Sayidin atau Pangeran Hadi Mataram, jumeneng nata (naik tahta) dengan gelar Sri Susuhunan Amangkurat Agung. Dalam transisi kekuasaan Mataram tersebut, ada seorang tumenggung yang merasa sangat berjasa sehingga berharap akan diangkat menjadi Patih. Tumenggung itu bernama Tumenggung Pasingsingan.
Akan tetapi, angan-angan seringkali hanyalah sebuah fatamorgana. Dalam suksesi kekuasaan, yang diangkat menjadi patih justeru Tumenggung Sindurejo. Kenyataan ini membuat Tumenggung Pasingsingan merasa kecewa. Dan rasa kecewa itu makin membuncah, karena sang sultan yang baru naik tahta tidak bertindak seperti sultan pendahulu: banyak menggunakan pertimbangan dan pemikiran-pemikirannya. Tumenggung Pasingsingan merasa terasing di antara kemegahan Mataram yang selama ini turut dia bangun dengan tetesan darah dan keringatnya.
Di sisi lain, ada sepasang kekasih yang sedang kasmaran: Pangeran Timur/Pangeran Alit dan Rara Mangli. Pangeran Timur adalah adik dari sang Sultan. Sedangkan Rara Mangli adalah anak dari Tumenggung Pasingsingan. Mereka menjalin asmara sejak masih remaja. Rara Mangli mencintai Pangeran Timur. Dan Pangeran Timur jauh lebih mencintai Rara Mangli.
Haus akan kuasa membuat Tumenggung Pasingsingan gelap mata. Dia memanfaatkan anaknya untuk meracuni pikiran Pengeran Timur. Pada pangeran muda itu dikatakan dengan tegas bahwa dirinya hanya akan menikahkan puterinya dengan orang yang bertahta sebagai Sultan. Entah kedudukannya sebagai garwa prameswari (permaisuri) ataupun garwa ampil (selir), Rara Mangli hanya akan menikah dengan sultan. Maka bila ingin memiliki Rara Mangli, Pangeran Timur harus merebut tahta dan menjadi raja di Kasultanan Mataram.
Maka terjadilah tragedi itu. Pangeran Timur dengan pengikutnya memberontak disokong oleh Tumenggung Pasingsingan. Saat berusaha menerobos istana, Pangeran Timur dan Tumenggung Pasingsingan terkepung pasukan istana yang dipimpin Tumenggung Malaya. Dalam perang tanding kanuragan, keduanya tewas ditikam keris Tumenggung Malaya. Ribuan pasukan pemberontak yang mengikuti jalan mereka pun dieksekusi tanpa ampun. Dan Rara Mangli yang mengetahui ayah dan kekasihnya tewas, memilih jalan sunyi dengan bunuh diri.
Tragedi mengerikan di balik suksesi Kasultanan Mataram ini diangkat dalam pertunjukan ketoprak dengan lakon “Rara Mangli” di Menara UPGRIS Kampus Gajah Semarang, Kamis 6 Agustus 2026. Pertunjukan ini dimainkan oleh Kelompok Kesenian Ketoprak Dwija Budaya yang berisi mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) FPBS UPGRIS.
Kaprodi PBSD, Yuli KW SS MA, mengatakan kegiatan “Workshop dan Bedah Lakon Kethoprak Rara Mangli, merupakan luaran mata kuliah Drama Jawa, Seni Tembang Macapat, serta Tata Busana dan Tata Rias.
“Ini luaran beberapa mata kuliah yang dijalankan secara kolaboratif. Semua pemain ketoprak dan karawitan adalah para mahasiswa,” ungkap Yuli.
Luaran mata kuliah ini, lanjut Yuli, sejalan dengan Center of Excellent Prodi PBSD yang membidik masalah Tata Artistik Seni Pertunjukan. Artinya, fokus lulusan Prodi PBSD ini, selain disiapkan menjadi guru, mereka juga dibekali dengan kemampuan dalam tata artistik seni pertunjukan.
Dekan FPBS UPGRIS, Siti Musarokah SPd MHum, yang membersamai langsung kegiatan, menyampaikan selamat datang bagi ratusan siswa dan guru yang telah bergabung dalam workshop maupun menyaksikan langsung pertunjukan lakon ketoprak.
Dalam kesempatan tersebut, Siti Musarokah juga memberikan apresiasi tersendiri bagi sivitas akademika prodi PBSD. Pertunjukan yang luar biasa ini menunjukkan bahwa kompetensi para mahasiswa dalam menguasai seni budaya Jawa sangat luar biasa. (za)



