
SEMARANG, derapguru.com –– Pembelajaran seni tidak selalu harus berada dalam wadah pelajaran seni. Tapi juga bisa diintegrasikan dalam pembelajaran lain. Misalnya saja, pembelajaran matematika tapi dilakukan dengan kegiatan membuat ogoh-ogoh Warak Ngendog dari bahan kertas karton.
Pelajaran matematikanya muncul saat siswa mengukur, menghitung, dan memotong kertas karton. Juga muncul saat mengenali jenis bangun ruang tertentu yang cocok dengan bentuk Warak Ngendog. Sedangkan pelajaran seninya muncul melalui kegiatan membuat boneka Warak Ngendog-nya.
Model pembelajaran terintegrasi inilah yang disampaikan Dosen Seni PGSD UPGRIS, Prasena Arisyanto MPd, saat menjadi pembicara dalam acara “Pembelajaran Seni Itu Asik” yang diselenggarakan Biro Kesenian dan Olahraga PGRI Jawa Tengah di Menara UPGRIS Kampus Gajah Semarang, baru-baru ini.
“Tidak selalu harus murni pelajaran seni, tapi bisa dilakukan secara terintegrasi dengan pembelajaran lainnya. Seperti tadi, pembuatan ogoh-ogoh Warak Ngendog dalam pelajaran matematika,” tandas Prasena.
Prasena menambahkan, dalam banyak kasus, pelajaran seni menjadi kurang maksimal karena gurunya yang tidak yakin dengan kemampuannya. Bahkan dari pelajaran seni yang terbagi menjadi empat segmen: tari, gambar, bernyanyi, dan drama. Yang paling jarang disentuh adalah pelajaran seni drama.
“Drama ini menjadi momok. Karena dalam pikiran guru harus menyediakan panggung, kostum, properti, dan lain-lain. Padahal main drama itu lho bisa dilakukan dengan sangat sederhana. Misal, drama bertema cara menyeberang jalan,” ungkap Prasena.
Prasena menguraikan, target materi drama cukup dua hal: menguasai situasinya dan menguasai perannya. Maka untuk memainkan drama tema menyeberang jalan, tidak perlu membuat lampu lalu lintas dan sebagainya.
“Panggung diubah menjadi situasi jalan di lorong kelas. Peran ada yang jadi pejalan kaki dan pengendara kendaraan bermotor. Materi dialog tidak usah panjang-panjang. Yang singkat saja. Lalu mainkan. Begitu juga drama kan?” tandas Prasena. (za)




