
SEMARANG, derapguru.com — Kebijakan pemerintah untuk memperkuat bahasa Inggris pada jenjang sekolah dasar membuat banyak sekolah dasar merasa perlu memperkuat atau menata ulang strategi pembelajaran bahasa Inggris di sekolahnya.
Termasuk juga SD Islam Tunas Harapan Klipang Kota Semarang. Sekolah yang berada di bawah pengelolaan Yayasan Al Muhajirin Tunas Harapan Kota Semarang ini segera sigap untuk menata ulang atau mengatur strategi pembelajaran bahasa Inggris di sekolahnya.
Untuk itu, Jumat siang tadi, 30 Oktober 2026, perwakilan dari pengelola sekolah sengaja berkunjung ke FPBS UPGRIS untuk meminta pendampingan dan penguatan kompetensi bagi guru-guru di sekolah mereka.

Tujuan kunjungan sekolah tersebut disampaikan Ketua Umum Yayasan Al Muhajirin Tulus Harapan, Riefky Nasarudin Kurniawan SE, saat mengantarkan para guru-guru melakukan MoU dengan FPBS UPGRIS di Kantor FPBS UPGRIS Kampus Gajah Semarang.
“Kami datang dengan maksud meminta pendampingan bagi guru-guru kami agar kemampuan mereka dalam berbahasa Inggris dapat semakin maksimal,” ungkap Riefky.
Riefky menambahkan, saat ini yayasan yang dikelolanya memiliki banyak dua jenjang sekolah, yakni Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Tapi untuk kerja sama kali ini lebih diutamakan untuk guru-guru yang mengajar di jenjang sekolah dasar.
“Untuk kelas sekolah dasar kami juga memiliki dua program, yakni Program Takhasus dan Program Bilingual. Kami berharap keduanya bisa makin diperkuat. Mungkin bisa didampingi sekitar 3 bulan agar semakin matang,” ungkapnya.
Dekan FPBS UPGRIS, Siti Musarokah MPd, menyambut hangat niat Yayasan Al Muhajirin Tunas Harapan untuk meningkatkan kemampuan guru-gurunya dalam berbahasa Inggris. Dirinya mengaku siap untuk membantu, baik dalam skema pelatihan atau pendampingan.
“Terima kasih atas kepercayaan ini. Insyaallah kami akan berusaha membantu apa yang menjadi permintaan Yayasan Al Muhajirin Tunas Harapan,” ungkapnya.
Siti Musarokah menambahkan, ada dua skema yang bisa dijalankan untuk melatih guru-guru. Pertama melalui skema kemitraan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat,” urai Siti Musarokah.
Kedua, lanjutnya, bisa dilakukan melalui skema pendampingan guru secara intensif. Pendampingan intensif ini dilakukan saat guru-guru mengajar dengan menggunakan bahasa Inggris. (za)



