
SEMARANG, derapguru.com — Menulis best practise pembelajaran sebenarnya sangat mudah. Salah satu caranya yang paling gampang adalah dengan menulis pengalaman mengajar yang paling berkesan selama menjadi guru.
Pengalaman yang paling berkesan tersebut kemudian diberi “sentuhan rasa” sehingga tulisan yang dihasilkan menjadi lebih hidup dan berwarna. Dengan cara seperti inilah, tulisan best practise yang baik bisa dihasilkan dengan cara yang sangat sederhana.

Tips menulis best practise ini disampaikan Guru Penulis Berprestasi, Arif Edianto MPd, saat memberikan materi dalam “Pelatihan Best Practise FPGL PGRI Jawa Tengah Masa Bakti XXII Tahun 2026″ yang digelar di Wisma P4G UPGRIS Kampus Sriwijaya Semarang, Sabtu 16 Mei 2026.
“Sangat mudah. Tulis saja pengalaman paling berkesan, beri sentuhan rasa, jadilah tulisan best practise,” ungkap Arif Edianto.

Arif Edianto menambahkan, ada banyak ruang yang bisa dimanfaatkan untuk menulis best practise. Salah satunya adalah tool Ruang Guru yang ada di platform e-GTK. Dalam Ruang Guru disediakan banyak ruang untuk guru-guru yang ingin menulis best practise.
“Pernah membuka Ruang Guru, Bapak Ibu? Ruang Guru saja jarang diupleg-upleg, opo maneh Ruang Murid,” celetuk Arif disambut tawa para peserta, “Padahal di Ruang Guru itu ada banyak lho tulisan-tulisan best practise-nya.”

Lebih lanjut Arif Edianto menuturkan, meskipun menulis best practise gampang, ada hal penting yang perlu dipahami guru. Sebab yang dibutuhkan dalam penulisan best practise tidak semata-mata tulisan yang bagus, melainkan tulisan yang dapat menyelesaikan masalah-masalah dalam pembelajaran.
“Tulisannya bagus, pilihan katanya juga bagus, bahkan cara menguraikannya juga bagus. Tapi kalau tidak bisa menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi guru ya percuma. Pastikan dalam best practise itu ada solusi-solusi yang bisa didapatkan oleh pembaca,” tutur Arif Edianto. (za)




