
Sukoharjo, derapguru.com- Membangun kepercayaan atau Trust building, adalah strategi yang dilakukan Pengurus PGRI Kabupaten Sukoharjo, untuk menjadikan PGRI kuat, independent, demokratis, dan berkelanjutan dalam menjalankan program dan kebijakan organisasi.

Selain mengedepankan sikap Disiplin, Koordinasi dan Komunikasi, yang harus dilakukan pengurus adalah membangun kepercayaan (Trust Building), agar program dan kegiatan PGRI benar-benar dirasakan manfaatnya oleh anggota. “Kami melaksanakan program peningkatan kompetensi dan konsisten memperjuangkan kesejahteraan guru. Pengurus harus bekerja dan berjuang untuk kepentingan anggota”, ujar Ketua PGRI Kabupaten Sukoharjo, Karsidi, SPd MPd dalam acara pembukaan Konferensi Kerja Tahun Kedua Masa Bakti XXIII PGRI Kabupaten Sukoharjo, di Meeting Room 1, Gedung PGRI setempat, Rabu, 10 Juni 2026.
Kembangkan Usaha
Dalam upaya tersebut, pihaknya kini terus mengembangkan kegiatan usaha sebagai sumber dana organisasi, guna mendukung pelaksanaan program dan kegiatan PGRI.
“Dalam RAPBO 2025, kami merencanakan hasil usaha sebesar 1,2 M, terialisasi 1.4 M. Dan Tahun 2026 ini kami merencanakan pendapatan usaha sebesar 1,3 M, harapan kami bisa terealisasi 1,7 M”, ujar Karsidi menjelaskan.

Pada kesempatan tersebut, Karsidi juga menyerahkan penghargaan kepada bendahara PGRI Cabang Mojolaban, sebagai bendahara terbaik, yakni Sisviana Etyka Sari, SPd MPd. Kemudian juga diserahkan bantuan kepada semua Cabang PGRI untuk mendukung kegiatan organisasi di wilayah masing-masing.

Tema Konkerkab II
Sebelumnya, Ketua panitia Konkerkab II PGRI Kabupaten Sukoharjo, Sahono, SPd MPd melaporkan dasar dan tujuan diselenggarakannya Konferensi Kerja, Tema Konferensi, jumlah peserta dan sumber dana. Dijelaskan, tujuan Konferensi Kerja Tahun Kedua MB XXIII, untuk membahas dan menilai pelaksanaan program 2025, Menyusun dan menetapkan program dan RAPBO tahun 2026, serta menentukan sikap PGRI PGRI Kabupaten Sukoharjo terkait isu-isu terkini, khususnya menyangkut persoalan guru dan pendidikan.
“Tema Konkerkab II PGRI Kabupaten Sukoharjo saat ini adalah Guru Bermutu Indonesia Maju”, jelas Sahono.

Sunaryo, Kabid GTK Dinas Pendidikan, yang hadir mewakili Kepala Dinas dan membuka acara tersebut, menyatakan PGRI memiliki peran strategis untuk mewujudkan Pendidikan bermutu di Sukoharjo. Sunaryo mengakui Dinas Pendidikan tidak bisa bekerja sendiri, harus bekerja sama dengan PGRI. “Dinas Pendidikan tidak bisa bekerja sendiri, banyak kontribusi dan masukan dari PGRI untuk mewujudkan Pendidikan bermutu. Untuk itu kami selalu bekerja sama dengan PGRI, dan mendukung penuh program-program PGRI”, tegas Sunaryo.
Bangga dan Mengapresiasi
Wakil Ketua PGRI Provinsi Jawa Tengah, Dr Hj Sri Suciati, M. Hum yang hadir mewakili Ketua PGRI Jateng Dr Muhdi, mengaku bangga dan mengapresiasi PGRI Kabupaten Sukoharjo yang telah menyelenggarakan Konkerkab II, lebih awal, sebelum 6 bulan dari pelaksanaan Konkerprov II PGRI. “Konkerkab II PGRI Sukoharjo ini termasuk di awal, karena sesuai AD/ART PGRI, selambat-lambatnya enam bulan setelah Konkerprov II”, ujar Dr Sri Suciati.

Sri Suciati kemudian juga mengapresiasi PGRI Kabupaten Sukoharjo yang telah lunas membayar iuran anggota, dan mengaku bangga karena PGRI Kabupaten Sukoharjo mampu menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha sebagai sumber dana organisasi. “Dengan berbagai usaha yang menjadi sumber dana organisasi, akan menjadikan PGRI semakin kuat dan indrpenden dalam melaksanakan program-programnya untuk memperjuangkan kepentingan anggota”, jelas Sri Suciati, yang dalam acara tersebut hadir bersama Sekretaris Umum PGRI Jateng Drs Aris Munandar MPd.
Dijelaskan lebih lanjut, agenda Konkerkab II PGRI ini sangat penting untuk menentukan arah organisasi dan sebagai kompas kebijakan ke depan, ditengah tantangan pendidikan dan persoalan guru yang semakin komplek. Dikatakan, perkembangan teknologi yang pesat, terutama penggunaan kecerdasan buatan atau AI oleh anak-anak, menjadi tantangan besar para guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. “harus kita sadari, AI adalah mesin yang tidak punya hati nurani, maka guru profesional yang bekerja dengan hati nurani, dan memiliki inovasi, kreativitas serta adaptif terhadap perkembangan, kehadirannya tidak tergantikan oleh algoritma apa pun”, jelas Sri Suciati.
“Ibarat berlayar, bisa jadi anak itu belum tahu batas berlayarnya sampai dimana, tidak tahu kalau ada batu karang, dan bahaya yang mengancamnya. Karena itu guru harus mendampingi, membimbing dan mengarahkan anak-anak dalam penggunaan teknologi dan AI. Delivery knowlledge bisa dari mesin atau media apa pun, tetapi mendidik karakter, budi pekerti, dan kepribadian anak itu penting dan harus dilakukan oleh guru”, tambah mantan Rektor Upgris ini mengingatkan pentingnya peran guru.
Dr Sri Suciati mengajak para pengurus untuk bersama-sama memastikan PGRI menjadi rumah yang nyaman bagi guru, tempat yang sejuk dan menggembirakan. “Mari kita kuatkan soliditas dan solidaritas untuk memastikan PGRI menjadi rumah yang nyaman bagi guru, kita berjuang bersama untuk kepentingan anggota, memajukan pendidikan, dan membangun organisasi PGRI menjadi lebih baik”, ujarnya.
Hasil Usaha
Terpisah, Suwarto, Wakil ketua PGRI Kabupaten Sukoharjo mengungkapkan dua kegiatan yang menonjol, yakni sosialisasi tentang Hukum dan pengembangan profesi guru. Semua kegiatan PGRI didanai dari iuran anggota dan hasil usaha. Suwarto yang juga pengelola Graha PGRI Kabupaten Sukoharjo ini mengungkapkan 4 kegiatan usaha yang menjadi sumber dana organisasi, yakni penyewaan Hall, Graha PGRI, Meeting Room, Home stay, dan persewaan Hiace (Travelling).

“Iuran anggota hanya mengcover sekitar 59% dari kebutuhan organisasi, selebihnya dari hasil usaha”, jelas Suwarto.
Dijelaskan, pada tahun 2025, pendapatan hasil usaha dari penyewaan Graha PGRI 1,265 M, Meeting room 150 juta, Travelling (sewa Hiace) 50 juta, total pendapatan usaha mencapai 1,490 M, hampir 1,5 M. Hasil usaha tersebut untuk membantu kegiatan organisasi sebesar 604 juta, yakni untuk operasional PGRI Kabupaten, PGRI Cabang, anak Lembaga dan sekolah-sekolah PGRI. “Selain itu untuk pembelian Kalender PGRI dan pembuatan KTA diberikan kepada anggota secara gratis”, kata Suwarto menambahkan.
Diungkapkan juga, Pembangunan Graha PGRI selama dua tahun, pada 2018, dengan biaya sekitar 5,5 M, kemudian menyusul Pembangunan kantor pusat PGRI selama satu tahun dengan biaya sebesar 4 M. Pembangunan Graha PGRI berasal dari iuran anggota, sedangakan kantor pusat PGRI dibangun dari hasil sewa Graha PGRI. (pur)



