
UNGARAN, derapguru.com — Pendidikan sering dipahami sebagai jalan untuk memperoleh pekerjaan atau memperbaiki masa depan. Namun, jika pendidikan hanya dipahami sebagai investasi individual, maka keberhasilan pendidikan semata-mata hanya akan diukur berdasarkan keuntungan.
Paulo Freire, melalui pemikiran pedagogi kritisnya, mengajak kita memahami pendidikan sebagai proses penyadaran terhadap realitas dan pembentukan kemampuan untuk mengubah keadaan yang menindas. Dalam perspektif ini, mahasiswa bukan sekadar penerima pengetahuan, tapi juga subjek yang belajar memahami dunia sekaligus menyadari bahwa dunia sosial dapat diubah melalui tindakan bersama.
Kesadaran ini tampaknya sudah mulai dipahami mahasiswa Prodi Teknik Mesin FTI UPGRIS. Setidaknya hal itu terlihat saat Hima Teknik Mesin menggiring mahasiswa baru mengikuti kegiatan “Malam Bimbingan (Mabin)” di wilayah Bergas Lor Kabupaten Semarang, Sabtu-Minggu ini, 10 -11 Oktober 2026.
Melalui agenda ‘Mabin’ tersebut, mereka mengajak mahasiswa baru berkemah untuk kaderisasi dan keakraban. Sekaligus berkemah untuk melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk bakti sosial bersih desa bersama masyarakat setempat.
Ketua Hima Teknik Mesin, Hanif Habiburrohman, menyampaikan bahwa kegiatan Malam Bimbingan ini mencoba membekali mahasiswa baru kesadaran seorang mahasiswa. Bahwa kewajiban mahasiswa tidak semata-mata hanya belajar, tapi ada pula kewajiban sebagai generasi terdidik untuk mengabdi ke masyarakat.
“Di dalamnya juga kami isi dengan kegiatan kaderisasi dan bagaimana beradaptasi dengan iklim belajar anak-anak teknik mesin,” ungkap Hanif.
Hanif menambahkan, kegiatan Mabin ini akan dipusatkan di kompleks Balai Desa dan area-area yang dipilih di lingkungan setempat. Dalam pelaksanaannya, mereka juga berkoordinasi dan menggandeng warga setempat untuk terlibat.
“Untuk mahasiswa baru yang terlibat dalam kegiatan ini jumlahnya mencapai 116 mahasiswa,” tandasnya. (za)




