
UNGARAN, derapguru.com — Perundungan sering kali dimulai dari hal-hal kecil yang dianggap biasa, namun dampaknya bisa membekas panjang bagi korban. Bahkan, kerapkali perundungan itu dimulai dari canda akrab yang menjadi luka dalam yang membekas.
Berangkat dari kesadaran akan hal tersebut, baru-baru ini, KKN UPGRIS di Desa Randugunting menggelar kegiatan “Sosialisasi Anti-Bullying di SD Negeri Randugunting” yang terletak di Desa Randugunting, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang.
Koordinator KKN UPGRIS di Desa Randugunting, Ahmad Khilmi, mengatakan program ini bertujuan menumbuhkan kesadaran siswa akan bahaya perundungan sekaligus mendorong mereka untuk saling menghargai satu sama lain. Di bawah arahan dosen Dr Fine Reffiane MPd, para mahasiswa menyampaikan materi tentang bullying, mulai pengertian pengertian sampai dengan bentuk-bentuknya: bullying fisik, verbal, sosial, dan cyberbullying.
“Kami juga memaparkan sejumlah bahaya yang ditimbulkan akibat perundungan, seperti trauma psikologis, menurunnya rasa percaya diri, hingga dampak jangka panjang terhadap prestasi belajar siswa,” ungkapnya.
Ahmad Khilmi menambahkan, selain menyampaikan materi secara interaktif, para mahasiswa juga memperjelas dengan menampilkan beberapa contoh kasus sederhana yang sering terjadi di lingkungan sekolah, seperti mengejek nama panggilan, mengucilkan teman dari kelompok bermain, hingga menyebarkan gosip.
“Melalui contoh-contoh tersebut, siswa kami ajak mengenali sendiri bahwa tindakan yang selama ini dianggap candaan biasa ternyata bisa termasuk bentuk bullying yang menyakiti perasaan orang lain,” ungkapnya.
Penanggung jawab kegiatan, Andini Kurniasari, menjelaskan bahwa sosialisasi ini digagas sebagai upaya pencegahan dini terhadap kasus perundungan di lingkungan sekolah dasar.
“Kami ingin anak-anak paham bahwa bullying itu bukan hal sepele. Baik pelaku, korban, maupun yang hanya menyaksikan, semuanya punya peran penting untuk menghentikan bullying. Harapannya, setelah kegiatan ini siswa lebih berani bersuara dan saling menjaga satu sama lain,” ujarnya.
Salah satu guru SD Negeri Randugunting, Hamidah SPdI turut menyambut baik pelaksanaan sosialisasi tersebut. Menurutnya, edukasi semacam ini penting dilakukan secara berkala agar nilai-nilai anti-bullying benar-benar tertanam dalam keseharian siswa, tidak hanya dipahami secara teori.
“Kami berterima kasih kepada mahasiswa KKN UPGRIS yang sudah mau berbagi ilmu kepada anak-anak kami. Semoga setelah ini siswa lebih peka dan berani menegur jika melihat temannya diperlakukan tidak baik,” ungkap Hamidah. (za)




