
SEMARANG, derapguru.com — Jauh-jauh hari Paulo Freire telah mengingatkan bahwa kampus didirikan untuk menjadi tempat penyadaran (conscientization). Tempat untuk mengubah kesadaran pasif atau naif menjadi kesadaran kritis terhadap realitas sosial, ketidakadilan, dan tanggung jawab kebangsaan.
Setiap kampus–termasuk UPGRIS–memiliki tugas dan kewajiban yang sama untuk membangun kesadaran kritis pada mahasiswa-mahasiswanya. Tak cukup itu saja, kampus juga dituntut untuk membangun rasa peduli dan empati pada manusia-manusia yang tercerahkan agar mereka selalu berpihak pada sisi kebenaran dan kemanusiaan.


Dan tampaknya, pada momen “Pekan Orientasi Mahasiswa (Poema)”–salah satu rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan (Pekka)–, yang digelar di Lapangan UPGRIS Kampus Gajah Semarang, Kamis 1 Oktober 2026, kampus ini bakal “ketiban berkah”.
Bagaimana tidak ketiban berkah, dari ribuan mahasiswa yang berkumpul tersebut, mulai terlihat puluhan jiwa-jiwa kritis yang ada di antara kerumunan. Setidaknya hal itu tampak dari tulisan-tulisan kritis yang muncul pada caping-caping petani yang menjadi salah satu kelengkapan kostum kegiatan.


Melalui tulisan dan gambar di caping, mereka menyuarakan pesan-pesan atas kondisi bangsa Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja. Tak hanya menyoroti masalah korupsi, pajak, karhutala, MBG, dan berbagai masalah sosial kemasyarakatan, mereka juga secara spesifik menyuarakan beberapa masalah besar.
Kasus sengketa lahan di Sugihmanik Grobogan, misalnya, mereka hanya menuliskan pada penampang caping: “Sengketa 82.6 Ha”. Kasus mafia tanah yang jadi salah satu yang terbesar di Indonesia ini menjadi salah satu bukti bahwa kedaulatan atas kepemilikan tanah masih mudah digoncang para mafia.


Termasuk juga kasus keracunan Makan bergizi Gratis (MBG) yang baru saja terjadi, kasus tersebut tak lepas dari kritik yang ditulis pendek tapi tajam: “MBG Beracun” atau “Evaluasi Ulang Program MBG”. Bahkan beberapa kasus alih hutan menjadi kebun kelapa sawit pun diulik dengan tulisan pendek: “Nyawit”.
Yang tak kalah menarik perhatian adalah adanya beberapa pesan yang terfokus di wilayah Pati dan sepanjang pegunungan Kendheng. Ada beberapa pesan yang muncul seperti “Tanah di Pati Bukan Untuk Investor, Tanah Rakyat Harga Mati” dan “Tanah Kami Bukan Untuk Diperjualbelikan-Grobogan”.

Pesan yang sering disampaikan aktivis-aktivis Pegiat Kendheng (Pati, Blora, Rembang, dan Grobogan) di bawah Kang Gunretno, yang akhir-akhir ini diestafetkan pada gerakan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) dipimpin Mas Bothok juga bermunculan seperti: “Krisis Air di Desaku”, “Kendheng Untuk anak Cucu Kita”, atau “Petani Menanam Industri”.
Ketua Pekka UPGRIS, Febrian Murti Dewanto SE MKom, mengatakan bahwa kegiatan Poema ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Pekka yang diikuti mahasiswa baru UPGRIS. Untuk kegiatan Poema dilaksanakan oleh BEM UPGRIS agar mereka punya kegiatan ntuk mengenalkan kegiatan Lembaga Mahasiswa (Lemawa) dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa).


“Kegiatan Poema lebih diarahkan untuk pengenalan berbagai kegiatan mahasiswa. Yang memimpin dan mengatur kegiatan Poema adalah BEM UPGRIS. Melalui kegiatan Poema, para mahasiswa dipersilakan untuk melihat-lihat stan-stan ekspo dari berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Lemawa dan Ornawa,” tandas Anto.
Anto menambahkan, selain berisi materi-materi pengenalan kampus, dalam rangkaian Pekka, mereka juga dibekali dengan penguatan mental dan spiritual melalui kegiatan PIESQ (Physical, Intellectual, Emotional, Spiritual Quotient) UPGRIS . (za)




