
Wonogiri, derapguru.com-PGRI Kabupaten Wonogiri yang selalu tertib menjalankan agenda organisasi sesuai amanat AD dan ART PGRI mengharapkan hal yang sama juga dilakukan oleh pengurus PGRI Cabang dan Cabang Khusus di wilayah masing-masing. “Setelah semua cabang menyelenggarakan agenda lima tahunan berupa Konferensi Cabang dan Cabang Khusus, kami harapkan juga menggelar Konferensi Kerja Cabang (Konkercab/Konkercabsus) yang merupakan agenda tahunan untuk menyampaikan laporan pelaksanaan program kerja serta menyusun dan menetapkan program kerja tahun berikutnya”, ujar Ketua PGRI Kabupaten Wonogiri, Drs Mulyatno MPd pada Konkerkab II PGRI Wonogiri di Gedung PGRI setempat, Sabtu 18 Juli 2026.
Mulyanto juga mengingatkan, setelah beberapa waktu lalu para pengurus cabang dan cabang khusus mengikuti kegiatan “Penguatan Kapasitas Pengurus (PKP) PGRI”, memastikan bahwa semua pengurus mengetahui apa yang seharusnya dilakukan untuk menguatkan dan memajukan PGRI.
Mulyatno berlatar belakang guru dan kepala sekolah ini kemudian mengungkapkan sebuah cerita tentang seorang yang kaya raya tetapi selalu mengeluh karena tidak bisa tidur dan kehilangan kebahagiaan. “Si orang kaya raya yang mengaku tidak bisa tidur dan kehilangan kebahagiaan ini kemudian bertemu seorang tukang kebun yang selalu Bahagia”, ujar Mulyatno.
Singkat cerita, jelas Mulyatno, ada pelajaran dari cerita tersebut, yakni agar kita tidak menyimpan kecurigaan dan penyakit hati yang membuat kita kehilangan rasa syukur atas nikmat dan karunia yang Allah berikan kepada kita, agar kita tidak kehilangan kebahagiaan.
Mulyatno kemudian menjelaskan tentang tujuan Konkerkab II, sebagai agenda tahunan, untuk menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan tahun 2025, serta menyusun dan menetapkan rencana kerja dan RAPBO tahun 2026 .
Mulyatno menegaskan, bahwa terkait program PGRI, agar dapat terlaksana dengan baik sesuai jati diri PGRI sebagai orgnanisasi profesi, organisasi perjuangan dan organisasi ketenaga kerjaan, pihaknya senantiasa berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Bupati Wonogiri. “Alhamdulillah, program PGRI selalu sinergi dengan program dinas pendidikan (pemerintah kabupaten, red), sehingga selalu mendapat dukungan dan berjalan dengan baik”, tutur Mulyatno menjelaskan.
Terkait keanggotaan PGRI, dijelaskan, pada tahun 2025 jumlah anggota PGRI 7689, jumlah ini masih ada kesenjangan jika dibanding dengan jumlah anggota Daspen. Banyak guru P3K dan P3K paruh waktu yang belum menjadi anggota Daspen, meski sudah menjadi anggota PGRI. “Terkait hal ini mohon pencerahan dari Pengurus PGRI Provinsi (bu Suci)”, ujar Mulyatno.

Wakil Ketua PGRI Jateng Dr Hj Sri Suciati M Hum yang hadir mewakili Ketua Dr H Muhdi SH M Hum mengapresiasi sinergi program PGRI dan Pemkab Wonogiri, dalam Upaya meningkatkan kualitas Pendidikan dan perjuangan untuk para guru.
Sri Suciati mengingatkan para pengurus untuk memastikan PGRI menjadi rumah yang nyaman bagi para guru dan anggota. Agar kita senantiasa menjaga soliditas dan solidaritas PGRI. Diingatkan juga agar para guru dapat beradaptasi dengan cepat terhadap berbagai kebijakan pemerintah.
Ditegaskan, selalu ada dua pilihan setiap kita bangun tidur; Melanjutkan tidur lagi dan bermimpi, atau bangun dari tidur dan segera bertindak untuk wujudkan mimpi-mimpi berikutnya. “selalu ada dua pilihan setiap kita bangun tidur; apakah melanjutkan tidur lagi dan bermimpi, atau bangun dari tidur dan segera bertindak untuk wujudkan mimpi-mimpi berikutnya”, ujar Sri Suciati mengingatkan.
Hasil TKA SD dan SMP
Kadinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri, Drs Sriyanto MM, yang hadir mewakili Bupati untuk membuka acara Konkerkab II PGRI Kabupaten Wonogiri mengungkapkan rasa bangga dan terima kasihnya kepada PGRI yang telah bersinergi dengan pemerintah kabupaten Wonogiri dalam Upaya peningkatan mutu Pendidikan.
Drs Sriyanto kemudian mengungkapkan keterkejutannya, karena hasil TKA SD di wilayahnya masuk peringkat tiga terbaik se Jateng, dan TKA SMP berada pada peringkat 9, sedangkan untuk SMAN 1 Baturetno menjadi terbanyak Nasional yang lulusannya diterima pada SNBP. “Kami sungguh terkejut dan bangga dengan prestasi terbaik para murid tersebut. Dan berterima kasih kepada para guru dan PGRI yang telah berjuang bersama dalam peningkatan mutu Pendidikan di Wonogiri”, ujar Kadinas Pendidikan, Sriyanto.
“Terkait P3K yang dulu menggunakan pakaian berbeda dengan PNS, setelah beberapa waktu lalu saya matur pak Muhdi, Alhamdulillah, sekarang sudah disamakan”, ucap Sriyanto menambahkan.
Kepala Dinas juga menyoroti banyaknya ruang kelas yang kondisinya rusak. “Ada 420 Ruang Kelas yang rusak, Sebagian sudah diperbaiki tetapi saat ini masih ada 300 an lebih Ruang Kelas yang rusak dan belum tersentuh perbaikan. Ini antara lain karena lama sekolah-sekolah itu tidak ada Kepala Sekolah”, jelasnya.
Selain itu, Sriyanto juga mengungkap persoalan banyaknya anak tidak sekolah (ATS), anak usia 7 sd 18 tahun sebanyak 4000 lebih, sedangkan untuk anak usia 7 – 15 tahun ada 900 an anak, sebagian besar karena lulus tidak melanjutkan (LTM). Banyak pula diantara mereka yang LTM (80%), penyandang disabilitas. Karena itu perlu adanya SLB di setiap Kecamatan.
Kemudian diungkapkan juga, bahwa sebaran SMA/SMK saat ini belum merata di tiap Kecamatan.
Terkait penggunaan seragam PGRI, Kepala Dinas Pendidikan Sriyanto mempersilahkan para guru dan tenaga kependidikan memakai pakaian seragam PGRI setiap tanggal 25. “guru dan tenaga kependidikan silahkan memakai seragam PGRI setiap tanggal 25”, tegas Drs Sriyanto, dihadapan para guru, dalam forum organisasi PGRI tersebut. (pur)




