
SEMARANG, derapguru.com — Masalah kesehatan yang muncul pada anak-anak sekolah rata-rata ada pada masalah kesehatan gigi. Selain masalah gigi, hal lain yang cukup mendominasi pada anak-anak sekolah adalah masalah anemia atau kekurangan darah.
Fakta tersebut muncul saat Anggota DPD RI, Dr H Muhdi SH MHum, melakukan kunjungan kerja ke Puskesmas Halmahera Semarang untuk memantau pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dicanangkan pemerintah, Kamis 15 Oktober 2026.

“Pemeriksaan CKG Sekolah, masalah rata-rata yang kami temukan pada anak sekolah masalah kesehatan gigi memang sangat tinggi terutama untuk anak-anak sekolah dasar,” ungkap dokter gigi Puskesmas Halmahera Kota Semarang, drg Yetty Kusniar.
Yetty menambahkan pada kasus kesehatan gigi, rerata adalah karies (gigi berlubang), persistensi (gigi susu tidak lepas ketika gigi permanen sudah tumbuh), dan mobilitas gigi (gigi goyang atau bergeser akibat kerusakan jaringan pendukung).

“Banyak makan minuman manis yang lengket, makanan tinggi gula, membuat angka karies tinggi. Kalau yang SD sekitar 50 persen lebih, masih besar sekali untuk angka kariesnya,” urainya sembari menuturkan persentase tersebut diambil dari total populasi 3000-an siswa SD yang ada di wilayah kerja Puskesmas Halmahera.
Dalam kesempatan yang sama, dokter umum Puskesmas Halmahera, dr Dita Putri, mengatakan khusus pada kasus anemia, rerata yang menderita adalah anak-anak puteri. Untuk mengatasinya, pihak Puskesmas telah melakukan intervensi dengan pembagian kapsul penambah darah.
“Setelan kami ketahui, kami lanjutkan dengan intervensi, dan mengevaluasi tindakan apa yang kami lakukan,” tandas dr Dita Puteri.
Kepala Tata Usaha UPTD Puskesmas Halmahera Kota Semarang, Dratia Eka Fajarani SKep Ns, mengatakan bahwa pihaknya masih kekurangan tenaga. Tapi kondisi ini agak tertolong dengan adanya dokter interenship yang sedang mengabdi di instansinya.
“Kami agak tertolong dengan 7 orang dokter yang sedang internship. Semoga ini bisa menjadi perhatian pemerintah. Untuk peralatan dan perlengkapan kesehatan sudah ada, meski belum benar-benar mencukupi,” ungkap Dratia.
Sementara, di sela kegiatan pemantauan, Muhdi menilai persoalan karies tidak cukup hanya ditangani Puskesmas. Tugasnya ialah melakukan pengawasan. Data hasil pemeriksaan perlu menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk melakukan intervensi lebih lanjut.
“Dan informasi ini menjadi penting, tidak saja untuk Puskesmas, tapi untuk orang tua yang sekarang mungkin sudah terkomunikasikan, untuk sekolah mungkin. Tapi juga bagi pemerintah daerah, artinya ini Dinas Pendidikan harus punya intervensi untuk kasus-kasus seperti ini,” jelasnya. (za)




