
Triawati Agusnila SPd MPd
Hari pertama tahun pelajaran 2026/2027 belum benar-benar dimulai, tetapi saya sudah menerima “ucapan selamat” yang terasa seperti peringatan dari seorang guru seni tari kelas XI. “Selamat ya Bu, menjadi wali kelas XII F. Anak-anaknya luar biasa.”
TAK lama kemudian, guru bahasa Indonesia berkata: “Saya masuk XII F seperti berada di dunia lain.” Belum selesai sampai di situ, rekan yang lain, seorang guru bahasa Inggris menimpali: “Wah, Si A, Si B, Si C, Si D, sekarang kumpul jadi satu di XII F.” Tiga komentar dari tiga guru yang berbeda mengarah pada satu kelas yang sama yaitu XII F. Saya belum mengenal wajah-wajah mereka. Namun, kelas itu sudah lebih dulu dikenal melalui stigma yang beredar di ruang guru.
Sampailah waktunya saya masuk di kelas XII F untuk perwalian. Di depan pintu kelas, saya meyakinkan diri: “Saya tidak ingin mengenal anak-anak ini hanya dari cerita orang lain. Saya harus mengenal mereka melalui perjalanan saya sendiri bersama mereka.” Saya buka pintu pelan-pelan. Suasana yang saya temui justru jauh dari bayangan, tidak gaduh dan ramai, yang ada hanya keheningan. Sebagian siswa menunduk main HP sendiri, sebagian menyandarkan kepalanya di meja, sebagian memandang keluar jendela, dan beberapa anak laki-laki bergerombol di pojok belakang untuk tiduran. Saat mengetahui saya datang, mereka bergegas ke kursi masing-masing.
Saya luaskan pandangan, setiap wajah saya tatap satu persatu. Tidak banyak respon yang mereka berikan ketika saya memperkenalkan diri. Hingga akhirnya saya memutar otak, bagaimana supaya mereka tertarik dan memperhatikan apa yang saya sampaikan. Saya buat sebuah cerita motivasi, yang saya karang supaya mereka lebih fokus. Saya katakan ketika tadi berdiri di pintu mau masuk kelas, badan hampir terpental oleh pancaran cahaya yang keluar dari wajah-wajah mereka. Cahaya calon orang-orang sukses di masa depan. Mereka tertawa mendengar cerita saya. Akhirnya suasana pun menjadi lebih rileks. Anak-anak mulai responsif dan fokus mendengar apa yang saya sampaikan.
Dua hari berjalan, obrolan rekan guru masih seputar kelas XII F. Bahkan informasi yang masuk semakin banyak sampai ke telinga saya. Rekan guru mengeluhkan, ketika mereka mengajak berbincang, respons yang muncul dari anak-anak sangat minim. Bahkan senyum pun terasa mahal. Awalnya saya mengira mereka hanya membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Namun hari-hari berikutnya saya mulai memahami bahwa yang menjadi masalah di kelas bukan suasananya, melainkan hubungan antarmanusianya.
Saya terkejut ketika mengetahui setelah satu minggu berjalan, masih ada murid yang belum mengenal nama teman sekelasnya sendiri. Mereka telah bersama sejak kelas XI, tetapi minim berinteraksi. Beberapa anak bahkan canggung berbicara dengan teman laki-laki maupun perempuan. Yang lebih menyedihkan, malam hari ada anak yang berkirim pesan melalui WA jika besok ingin meminta tanda tangan saya untuk surat pernyataan. Karena sudah malam, saya tidak bertanya banyak. Esok harinya baru saya pahami jika itu adalah surat pernyataan dari BK yang berisi perjanjian untuk tidak melakukan perbuatan yang kurang baik lagi yang dia lakukan saat liburan sekolah. Kembali saya menarik nafas panjang.
Akhirnya saya melakukan identifikasi dan menganalisis kondisi kelas dari berbagai sisi. Inilah data dan fakta yang kemudian saya temukan. Beberapa guru bercerita bahwa mengajar di XII F seperti berbicara sendiri. Ketika materi dijelaskan, respons hampir tidak ada. Tatapan kosong sering terlihat di wajah mereka. Ketika guru di kelas lain dapat menjelaskan materi sekali, di kelas XII F penjelasan harus diulang beberapa kali dengan tempo yang lebih lambat. Dari 36 anak, hanya 9 anak yang ingin melanjutkan kuliah, selebihnya memilih bekerja setelah lulus SMA .
Berikutnya saya mencari informasi dari guru BK yang mendampingi anak-anak sejak kelas X dan XI. Saya ingin mendengar cerita mereka sebelum mencoba mengubah mereka. Satu demi satu potongan puzzle mulai tersusun. Terdapat tiga murid yang mengalami keterlambatan akademik sehingga kemampuan belajarnya berada di bawah rata-rata teman sebayanya. Ada seorang murid yang pernah mengalami konflik cukup serius dengan teman laki-lakinya pada waktu kelas XI. Dua murid mengalami permasalahan dalam bersosialisasi. Bahkan sepuluh murid telah memiliki riwayat permasalahan dengan teman maupun guru sejak tahun sebelumnya.
Data dari kurikulum semakin menguatkan gambaran tersebut. rata-rata kelas terendah dibanding kelas lain yaitu hanya 78,80. Saya juga mempelajari hasil psikotes mereka yang dilakukan ketika kelas X, tertulis bahwa terdapat murid dengan kemampuan intelektual di bawah kategori normal.
***
Berdasar data-data yang saya dapat dari hasil penelusuran dan pengisian form identifikasi diri yang saya berikan ke anak, saya tidak lagi bertanya, “Mengapa mereka seperti ini?” Saya mulai bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan agar mereka berkembang?” Saya percaya proses pendidikan bukanlah menyamakan semua anak. Namun memberi ruang yang sesuai prosi dan kebutuhan mereka. Inilah yang disebut sebagai pendidikan inklusif. Pendidikan inklusif menghadirkan kesempatan yang adil bagi setiap anak untuk bertumbuh sesuai kebutuhannya (Kemendikdasmen, 2022).
Solusi pertama yang saya lakukan adalah mengidentifikasi murid yang membutuhkan pendampingan lebih intensif dan murid yang dapat diberi pendampingan secara reguler. Bukan untuk memberi cap, tetapi supaya saya tahu bagaimana memperlakukan setiap anak dengan tepat. Saya menghubungi wali kelas X, wali kelas XI, serta guru BK yang pernah mendampingi mereka. Wawasan saya semakin bertambah. Ada anak yang sebenarnya sangat baik tetapi sulit berkomunikasi. Ada yang lambat memahami materi tetapi memiliki kepedulian tinggi kepada teman. Ada yang tampak acuh, tetapi memiliki cita-cita tinggi sebagai “bos” peternak ayam dan telor yang akan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Ada pula yang sudah berlatih menjadi petani mengolah lahan untuk menanam singkong dan pisang. Semakin saya mengenal mereka, semakin saya menyadari bahwa tidak ada satu pun anak yang bisa disimpulkan hanya dari nilai akademik.
Perjalanan berikutnya, saya susun jadwal untuk beberapa minggu ke depan. Saya buat agenda bisa berkomunikasi dengan anak dan orang tua satu persatu. Saya ingin mengetahui kehidupan anak-anak ketika di rumah, karena pola asuh keluarga sangat berpengaruh pada karakter anak. Terkadang ada orang tua yang kebingungan mendampingi anak belajar dan ada pula yang bekerja hingga malam sehingga jarang berkomunikasi. Anak-anak membutuhkan pendampingan guru dan orang tua untuk saling menguatkan. Orang tua dan sekolah harus saling bekerjasama. Saya ingin wali kelas, guru BK, guru mata pelajaran, wakil kepala sekolah, pimpinan sekolah, dan orang tua, berjalan dalam langkah yang sama. Perubahan lahir bukan dari satu orang tapi dari kolaborasi.
Langkah berikutnya, kami membangun budaya baru di kelas XII F. Kita menyebutnya keyakinan kelas. Setiap pagi anak-anak melakukan absensi manual sebelum pembelajaran dimulai. Cara sederhana ini kami gunakan untuk melatih kedisiplinan dan membangun kebiasaan datang lebih awal. Setiap dua hari sekali tempat duduk diacak. Awalnya mereka terlihat keberatan. Namun perlahan mereka mulai terbiasa dan tumbuh komunikasi dengan teman yang sebelumnya tidak pernah saling sapa. Mereka belajar mengenal orang lain yang tanpa sadar, mereka juga sedang belajar mengenal dirinya sendiri.
Setiap akhir pekan mereka mengisi refleksi diri yang saya siapkan melalui Google Form. Saya meminta mereka menuliskan pencapaian positif apa yang berhasil mereka lakukan, kesulitan yang masih dihadapi, serta bantuan apa yang mereka butuhkan. Jawaban-jawaban sederhana itu menjadi jalan yang memperlihatkan dunia mereka. Ada yang menulis bangga karena akhirnya berani bertanya kepada guru. Ada yang merasa senang karena memiliki teman baru. Ada pula yang jujur mengaku masih takut berbicara di depan kelas. Semua jawaban saya baca satu per satu karena saya ingin mereka tahu bahwa suara mereka didengar.
Guna mendorong akademik mereka, saya berdiskusi dengan tiap guru mata pelajaran untuk memberi proses dan perlakukan yang berbeda bagi anak-anak sesuai kebutuhan masing-masing. Di satu sisi saya menerapkan tutor sebaya. Anak-anak yang telah memahami materi membantu teman-temannya belajar. Perlahan suasana kelas berubah. Mereka mulai terbiasa bertanya. Mereka mulai terbiasa saling membantu. Mereka mulai percaya bahwa keberhasilan teman bukan ancaman, melainkan kesempatan untuk belajar bersama.
Saya juga membuat catatan perkembangan murid. Di dalamnya saya menuliskan perubahan-perubahan kecil yang sering kali luput dari perhatian. Hari ini seorang anak berani menyapa guru. Minggu depan ia mulai mengangkat tangan. Minggu depannya lagi dia berani mempresentasikan hasil diskusinya. Perubahan besar selalu lahir dari langkah-langkah kecil yang dirawat dengan kesabaran. Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan anak yang pandai tetapi juga pribadi yang mampu hidup berdampingan dengan orang lain.
Perubahan itu memang tidak datang dalam semalam. Namun saya terus mengingat satu kalimat. Benih yang baik tidak pernah tumbuh karena dipaksa. Ia tumbuh karena dirawat. Sedikit demi sedikit perubahan mulai terlihat. Anak-anak yang dulu memilih diam kini mulai merespon guru. Mereka yang enggan berdiskusi mulai berani mengemukakan pendapat. Anak-anak yang tadinya tidak mengenal teman sekelasnya kini mulai tertawa bersama. Suasana kelas perlahan berubah menjadi ruang yang hidup. Mereka memang belum menjadi kelas dengan nilai tertinggi tetapi mereka telah menjadi kelas yang terus bergerak maju.
***
Tepat di tanggal 30 Juli 2029, setelah pembelajaran berjalan selama 17 hari, ketika saya sedang berada di ruang guru, guru Sosiologi menghampiri. Beliau tersenyum sambil berkata: “Bu, sekarang saya senang kalau mengajar di XII F.” Guru lain yang mengajar matematika menimpali, “Anak-anaknya sekarang seru, mereka sudah semangat belajar.” Saya tersenyum. Teringat kembali hari pertama ketika sebagian besar guru menyampaikan cerita yang sama tentang XII F. Hari ini cerita itu telah berubah. Bukan karena mereka sudah sempurna, melainkan karena mereka telah tumbuh dan berproses lebih baik setiap harinya hasil dari adanya kesempatan dan ruang untuk tumbuh sesuai kebutuhan.
Kedepannya XII F mungkin tidak bisa berubah menjadi kelas dengan nilai akademik tertinggi, tetapi mereka tumbuh dengan rasa percaya diri yang semakin kuat. Dari kelas inilah saya belajar bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar menerima perbedaan. Pendidikan inklusif adalah keberanian melihat potensi ketika orang lain hanya melihat keterbatasan. Tidak ada anak yang benar-benar sulit, yang ada hanyalah anak-anak yang belum dipahami dengan cara yang tepat.
Sebuah saran untuk rekan-rekan guru yang bisa menjadi renungan bersama, bahwa sebagai guru, kita tidak selalu mampu mengubah semua keadaan. Namun kita selalu bisa memilih satu hal yaitu menjadi orang pertama yang percaya bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh. Setiap anak adalah juara (Munif Khatib, 2012). Ini proses jangka pendek yang baru berjalan 3 minggu di kelas XII F. Namun hasil ini menjadi amunisi yang semakin motivasi saya bahwa ketika proses ini nantinya memasuki jangka menengah dan panjang, dampaknya akan lebih luar biasa. *
Penulis
Triawati Agusnila SPd MPd
Guru SMA Negeri 1 Bobotsari Purbalingga Jawa Tengah



