
SEMARANG, derapguru.com — Tangan mungil Diana dan Diandra–dua anak kembar–segera terangkat. Wajahnya berpijar. Semangatnya membuncah ketika pertanyaan siapa yang bercita-cita ingin menjadi guru terdengar.
Mereka memang menunggu pertanyaan itu. Sebelumnya yang ditanyakan adalah cita-cita menjadi dokter, tentara, dan polisi. Mereka tidak ingin menjadi itu. Yang mereka inginkan adalah menjadi guru.

Semangat dua anak kembar ini tentu saja menarik perhatian Dr H Muhdi SH MHum, anggota Komite III DPD RI dari Jawa Tengah, yang sedang memantau pelaksanaan Sekolah Rakyat (SR). Dengan tersenyum Muhdi mendekati mereka.
“Siapa yang ingin menjadi guru?” tanya Muhdi kembali.
“Saya,” sahut keduanya serempak.
“Asal sekolahnya sungguh-sungguh, pasti berhasil,” urai Muhdi.
Diana dan Diandra adalah dua anak kembar asal Sambiroto Tembalang Semarang. Mereka masuk kelas II Sekolah Rakyat (SR) Rowosari Kota Semarang karena lahir dari keluarga tak mampu. Agar sekolah mereka tidak terputus dan hidup mereka terjamin dalam perlindungan kementerian sosial, mereka dimasukkan di Sekolah Rakyat yang berasrama.

Bukan hanya Diana dan Diandra, dari puluhan siswa di dalam kelas itu, ada juga Tama. Tama adalah anak laki-laki yang berasal dari perkampungan depan Kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Dia lahir dari keluarga miskin, tapi cita-citanya jelas: ingin jadi polisi.
Muhdi dalam sambutannya sangat mengapresiasi niat pemerintah memberikan pendidikan berkualitas bagi anak-anak desil 1 dan 2 melalui Sekolah Rakyat. “Keberadaan Sekolah Rakyat dari jenjang Sekolah Dasar, SMP, hingga SMA perlu didukung dengan keturkupan tenaga pengajar, jaminan makanan, serta layanan kesehatan, menjadi modal penting untuk mendukung perkembangan siswa,”urai Muhdi.

Muhdi berharap fasilitas dan dukungan tersebut mampu mengantarkan siswa menyelesaikan pendidikan secara berkelanjutan, mulai dari SD ke SMP hingga SMA, dengan kesempatan yang sama untuk meraih masa depan lebih baik.
“Sejumlah keterampilan, seperti urban farming dan menjahit, sangat relevan untuk membangun kompetensi praktis yang dapat dimanfaatkan setelah lulus,” urai Muhdi dalam kunjungan kerja di Sekolah Rakyat Kota Semarang di Rowosari, Tembalang, Senin 19 Oktober 2026.
Kepala Sekolah Rakyat Kota Semarang, Ridho Irwanto menyebut, sebanyak 356 siswa tercatat mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat Kota Semarang. Jumlah tersebut terdiri atas 180 siswa laki-laki dan 176 siswa perempuan tersebar di tiga jenjang pendidikan.
Jenjang SRD menampung siswa terbanyak, yakni 136 orang. Jumlah tersebut terdiri atas 65 siswa laki-laki dan 71 siswa perempuan. Sementara itu, jenjang SRMP memiliki 90 siswa, terdiri atas 41 laki-laki dan 49 perempuan. Adapun jenjang SRMA diikuti 130 siswa, dengan rincian 74 laki-laki dan 56 perempuan. (za)




