
SEMARANG, derapguru.com — Para pendidik diminta untuk mengajar dengan pendekatan hati pada siswanya. Sebab mendidik dengan mulut hanya akan didengar oleh telinga. Tetapi mendidik dengan hati akan didengar oleh telinga dan dilakukan dengan sepenuh hati.
Konsep ini disampaikan Ketua Kominfo PB PGRI, Dr Agus Rohiman MPd, saat menyampaikan materi dalam “Workshop Transformasi Persekolahan PGRI Tahun 2026” di UPGRIS Kampus Sriwijaya, Rabu 16 September 2026.
“Kalau kita berbicara dengan mulut hanya akan didengar oleh telinga, tetapi ketika kita berbicara dengan hati akan didengar dengan hati pula,” ungkapnya.
Konsep ini, lanjut Agus Rohiman, berangkat dari cerita seorang ibu yang curhat pada Mahatma Gandhi karena anaknya susah dilarang untuk makan garam. Oleh Gandhi, dia diminta menitipkan anaknya selama satu Minggu untuk diajari supaya berhenti makan garam.
Dan benar. Satu Minggu berikutnya, Gandhi hanya menepuk pundak sang anak, lalu anak itu benar-benar tidak makan garam lagi. Sang ibu bertanya, apa yang dilakukan? Gandhi mengatakan, sejak 1 minggu itu dirinya sudah tidak makan garam lagi.
“Gandhi berkata, kalau saya katakan jangan makan garam, bukan lagi diterima oleh telinganya, tapi telah diterima dengan hatinya,” ungkap Agus Rohiman.
Agus Rohiman menegaskan bahwa dalam kehidupan ini, peneladanan sangat dibutuhkan untuk mendidik anak. Bila ingin melarang anak, jangan hanya melarang, tapi berikan contoh peneladanannya.
“Ingin anak disiplin tepat waktu ke sekolah, gurunya juga harus tepat waktu. Ingin muridnya gemar membaca, gurunya juga harus senang membaca, dan seterusnya,” gelap Agus Rohiman. (za)




