
SEMARANG, derapguru.com — Hutan mangrove berfungsi sebagai benteng pertahanan alami di wilayah pesisir untuk mencegah abrasi dan menahan gelombang badai. Secara ekologis, mangrove juga menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut, penyerap emisi karbon (blue carbon), serta penyaring alami yang menjaga kualitas air laut.
Demi menjaga kelangsungan ekologi area mangrove Kepulauan Karimunjawa, Tim Dosen UPGRIS yang terdiri atas Dra Lusia Maryani Silitonga PhD, Prof Dr Wiyaka MPd, Dr Entika Fani Prastikawati MPd, Ibnu Fatkhur Royana MPd, dan Nur Cholifah SPd MPd, terjun langsung ke lapangan untuk terlibat dalam restorasi mangrove.

Tak bergerak sendiri, UPGRIS juga memberi kesempatan bagi mitranya, National Yunlin University of Science and Technology (YunTech) Taiwan, untuk turut serta terlibat dalam program restorasi mangrove yang dikemas dalam agenda besar “International Summer Camp 2026”.
Ketua Tim Dosen UPGRIS, Lusia Maryani Silitonga, menyampaikan bahwa International Summer Camp tidak hanya menjadi wadah pertukaran budaya antara mahasiswa Indonesia dan Taiwan, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kepedulian sosial, termasuk restorasi mangrove.
“Kegiatan ini melibatkan dosen, mahasiswa, serta masyarakat setempat dalam berbagai aktivitas edukatif dan aksi lingkungan,” urai Lusia.

Lusia menambahkan, selain menggelar kegiatan restorasi mangrove, mereka juga menggelar beberapa kegiatan lain seperti aksi bersih pantai, edukasi pengelolaan sampah, Focus Group Discussion (FGD) mengenai keberlanjutan lingkungan, hingga produksi konten kampanye digital yang mengangkat pentingnya pelestarian ekosistem pesisir.
Melalui kegiatan ini, lanjut Lusia, mahasiswa memperoleh pengalaman nyata dalam bekerja sama dengan masyarakat untuk menyelesaikan persoalan lingkungan secara kolaboratif sekaligus mengembangkan kompetensi global yang sangat dibutuhkan pada era internasionalisasi pendidikan.
“Seluruh kegiatan dirancang untuk memberikan pengalaman belajar langsung (experiential learning) sekaligus meningkatkan kesadaran ekologis peserta dan masyarakat,” pungkas Lusia. (za)



