
Banjarnegara, derapguru.com-Luka fisik mudah disembuhkan, namun luka hati susah sembuhnya. Kesehatan mental menjadi salah satu isu dan permasalahan Genzi yang mengkhawatirkan. Dibutuhkan ketrampilan semua pihak dalam Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis (P3LP). Karenanya, Selasa 20 Mei 2026, SMA Negeri 1 Sigaluh bekerja sama dengan Puskesmas Sigaluh 1 Banjarnegara mengadakan kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan P3LP. sebagai upaya meningkatkan literasi kesehatan mental di kalangan siswa. Kegiatan ini bertujuan membekali siswa dengan pemahaman dasar tentang cara mengenali dan menangani masalah psikologis, khususnya kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.
Petugas Puskesmas Sigaluh 1 Purwani Putri mengatakan bahwa P3LP bertujuan untuk mengurangi tingkat stres korban, memberikan dukungan dan mencegah kondisi stres yang memburuk.
“Prinsipnya dalam pertolongan ini, kita harus memperhatikan korban, mendengarkan korban dan menghubungkan dengan pihak-pihak lain untuk pertolongan yang lebih intensif,” jelas Purwani.
Dalam kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan materi teori dari tenaga kesehatan, tetapi juga berkesempatan untuk langsung mempraktikkan simulasi penanganan kasus. Siswa berperan sebagai “psikolog” yang membantu teman sebaya yang mengalami perundungan.

Pembina PIKR SMAN 1 Sigaluh Anang Dwi Susanto mengatakan, melalui simulasi ini, siswa dilatih untuk berempati, mendengarkan secara aktif, serta memberikan respon yang tepat dan suportif.
“Kegiatan P3LP ini diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian siswa terhadap kesehatan mental, meningkatkan keberanian untuk saling membantu, serta menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman, nyaman, dan bebas dari perundungan,” harap Anang.

Salah satu peserta pelatihan Zabrina Zahwa mengungkapkan kegiatan ini sangat bermanfaat baginya.
“Kita bisa menjadikan sekolah sebagai tempat yang nyaman, bahkan rumah kedua kita. Dengan kesehatan mental yang baik maka performa siswa juga tentu akan lebih baik, bisa optimal meraih prestasi. Dan yang terpenting, kita punya resiliensi yang kuat terhadap masalah remaja yang dihadapi,” ujar Zabrina. (H Purwono)



