
SEMARANG, derapguru.com — Bagaimana jadinya bila keindahan gerak seni drama tari dikolaborasikan dengan panggung dan kostum yang diberikan sentuhan seni kriya dari barang-barang bekas? Tentu saja, yang lahir adalah sebuah karya eksperimental unik yang patut diberikan apresiasi.
Hal inilah yang terlihat dari kegiatan bertajuk “Simfoni Gerak Alam & Wild Craft” yang digelar di SMA Negeri 16 Semarang, baru-baru ini. Sebuah gelaran seni yang mengolaborasikan pelajaran Seni Budaya dan pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU) dalam satu panggung pertunjukan.
Ada tari tradisional yang ditampilkan di atas panggung yang dihias dengan berbagai barang bekas. Ada juga tampilan tari kreasi modern yang dimainkan dengan kostum dari barang bekas.
Kepala SMA Negeri 16 Semarang, Tarisno SPd MPd, dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi yang mendalam terhadap terselenggaranya kegiatan ini. Melalui kegiatan, potensi anak dari bidang seni dapat dipetakan dan nantinya dapat dikembangkan lebih serius lagi.
“Saya sangat mengapresiasi, sangat senang, bangga, karena melalui kegiatan seperti ini, kita bisa melihat potensi dari anak-anak di bidang Seni, selain bidang akademik tentunya. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini dapat terus berlangsung dan menginspirasi dari mapel lain yang belum terlibat,” ungkap Tarisno.
Guru Seni Budaya, Yunik Ekowati SPd MPd, menuturkan persiapan kegiatan ini sudah dirancang sedemikian rupa mulai sejak bulan Januari. Para siswa belajar tata rias, dan eksplorasi genre untuk mendalami bagaimana membuat riasan dan eksplorasi gerak tari bertema fauna.
“Untuk melatih kepekaan seni kriya dilakukan melalui materi dekorasi panggung. Dekorasi ini kami serahkan pada anak, biar mereka merancang sendiri dengan bahan psfannpertunjukan dengan memanfaatkan material di sekitar mereka, terutama kardus dan benda-benda bekas,” ungkap Yunik.
Yunik menambahkan, kolaborasi ini merupakan perkawinan estetis antara seni pertunjukan tari berdurasi panjang dengan kreativitas tata panggung berbasis ekologi (upcycling). Konsep ini sejalan dengan esensi dari deep learning (bermakna), dan joyful learning (menyenangkan). (za)



